Showing posts with label Alam Negriku. Show all posts
Showing posts with label Alam Negriku. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Manado "SI TOU TIMOU TUMOU TOU"

Setelah wisata air di Manado, Nah bagaimana dengan Kota Manado sendiri?

Perjalanan ini mirip seperti perjalanan / wisata reliji. Beberapa tempat wisata yang kita datangi antara lain: bukit Doa yang terdapat Goa Maria dan Jalan Salib. Buat teman-teman beragama Kristen, perjalanan ini memiliki makna tersendiri, namun buat yang non Kristen, tempat ini tetap menarik karena dibuat dengan tatanan yang sangat alamiah. Sebelum memulai perjalanan Salib, kita melewati sebuah danau buatan yang penuh dengan bunga Teratai dan Water Lyly. Dan dalam perjalanan salib, kita di kelilingi oleh pepohonan dan menemukan patung-patung yang menceritakan pengorbanan Yesus Kristus bagi umatnya, sampai memasuki lorong gelap yang cukup spooky juga kalau masuk sendiri sebelum akhirnya kita menemukan cahaya di ujung lorong yang menghantarkan kita ke Gua Maria. Setelah itupun, kita bisa menikmati pemandangan Gunung Lokon dan hijaunya rumput luas dengan udara yang sejuk (kebetulan habis hujan). Pemandangan yang sangat indah dan tenang.



Jika di Jakarta dan kota di Pulau Jawa lainnya, rumah ibadah yang paling mudah kita temui adalah Mesjid, bahkan aku tinggal di sebarang Mesjid, namun di Manado yang paling sering kita temui adalah Gereja, baik itu untuk Protestan maupun Katolik. Hal ini banyak dipengaruhi oleh bangsa Eropa yang dimulai dari Protugis, Spanyol dan Belanda yang mengirimkan misionaris ke Manado jaman dulu. Meskipun setelah dibaca-baca di literature lain, sebelum agama Kristen menjadi agama mayoritas penduduk Manado, agama Islam adalah agama yang banyak dianut oleh penduduknya. Tapi, apapun agama mayoritasnya saat ini, Manado memiliki toleransi yang sangat tinggi dalam kehidupan beragama. Diceritakan oleh tour guide lokalnya bahwa ketika hari besar agama Kristen, maka penduduk beragama Islam akan menjaga keamanan dan ketenangan area ibadah Kaum Kristen dan begitu sebaliknya. Toleransi ini juga dihadirkan dalam bentuk nyata. Pemerintah setempat membangun satu area yang dinamakan Bukit Kasih, dimana di area ini terdapat 5 tempat ibadah yang mewakili 5 agama yang diakui pemerintah Indonesia dan juga monument segi 5 yang setiap sisinya diberikan ukiran dan ajaran masing-masing agama. Dan menurut cerita rakyat, jika ingin melihat wajah dari nenek moyang orang Manado, ktia juga dapat melihatnya di Bukit Kasih ini.
Tingkat toleransi yang tinggi ini mungkin juga tidak terlepas dari ajaran hidup penduduk manado seperti slogan yang terlihat di Bandara Sam Ratulangi SI TOU TIMOU TUMOU TOU : Manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia“. Kalimat ini merupakan kalimat yang diceritakan pertama kali oleh pemandu local ketika kita menaiki bus. Seringnya karena tuntutan hidup, kita menjadi orang yang egois dan kalimat ini mengingatkan kita bahwa hidup menjadi benar-benar hidup ketika kita dapat berguna juga untuk orang lain. Begitulah ajaran sangat benar yang di tinggalkan salah satu tokoh Nasional kita yaitu Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi.




Lainnya :
Gulai Kelelawar yang dimakan dan diselingi dengan minuman arak yang terbuat dari berbagai macam akar tumbuhan. Kelelawar atau Paniki ini tidak menjadi favorit ku karena baunya menurutku terlalu menyengat dan terasa seperti Hati B2.

Tarsius, Monyet kecil dengan mata belo ekor panjang yang pemalu. sayangnya kita hanya bisa liat yang sudah dipelihara karena hujan yang menghalangi kita mengunjungi Taman Nasional Tangkoko, habitat asli Tarsius. 




The Hidden Paradise @ Manado

Masih ingat sekali perasaan sebelum liburan ke Manado. Karena keindahan Bunaken yang selalu dibicarakan dimana-mana membuat hati semakin tidak sabar menyaksikan dengan mata kepala sendiri . so apa yang berhasil aku discover di Manado? Dari semua tempat wisata yang kita kunjungi, Grand Luley Beach merupakan tempat yang paling berkesan buatku karena aku seperti menemukan The Hidden Paradise.

Pantai Tongkaina, Grand Luley Beach
Pantai ini terletak di resort Grand Luley, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Grand Luley Beach, namun aslinya bernama Pantai Tongkaina. Ini adalah tempat wisata yang kami kunjungi karena tidak disengaja untuk membayar banyaknya tempat yang tidak berhasil kita datangi.

***
Bayangkan diri kamu berada di atas jembatan berwarna coklat panjang yang tersusun dengan rapi dimana disamping kiri kanan terdapat pohon bakau, sambil berjalan, sambil melihat ke kanan dan kiri, tiba-tiba kamu akan menemukan sebuah pohon yang menjulang tinggi dan sangat tinggi dibandingkan dengan pohon disekitarnya. Penduduk setempat menamakannya Pohon Doa.  Dengan langit biru dan hiasan awan putih, kamu melanjutkan perjalanan kembali sambil melihat bahwa ternyata kamu berjalan diatas air yang sangat jernih. Jernih sekali... sampai kamu bisa melihat ikan-ikan berenang dan bermain di rumput laut. Ikan berwarna hitam, biru, coklat muda dan kuning. Untuk menikmati pemandangan dan perjalanan tersebut, kamu beristirahat sejenak di pondokan kayu kecil, menikmati hembusan dan suara angin dan hanya suara itu.

Sambil berjalan kembali dan bercanda dengan teman seperjalanan mu, melewati 2 pondokan kecil,  tiba-tiba

kamu melihat warna yang sangat indah sekali, dan tidak hanya satu warna, kamu dapat melihat 3 warna indah yang terpantul dari cahaya matahari dan laut. Disamping kiri mu, kamu dapat melihat warna pasir coklat muda yang sangat bersih bersama karang-karang kecil yang terbawa ombak serta tumbuhan bakau hijau yang membuat pemandangan menjadi lebih sejuk. Warna berikutnya adalah warna hijau biru muda yang terlihat seperti gradasi warna sebelum biru laut yang indah. Warna hijau biru muda ini memberikan kesegaran dalam hati dan pikiran. Setelah itu, kamu akan terbawa ke warna biru laut yang benar-benar biru membuat diri seperti berada di surga yang sangat damai. Indahnya warna tersebut membuat diri melupakan teriknya matahari yang menyinari. Ehm….

Di ujung jembatan, kamu melihat pondokan besar tempat kamu bisa berkumpul dan menikmati suara ombak kecil serta taman laut mini penuh dengan ikan yang sedang bermain di karang laut dan juga kumpulan bulu babi hitam menghiasi warna hijau biru muda tersebut. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah keindahan dan kedamaian tanpa hiruk pikuk. Kamu mulai menelusuri tebing buatan sampai ke ujung, menikmati laut yang indah dihiasi oleh pulau Bunaken, Manado tua dan satu lagi. Meskipun kamu tidak tahu nama pulau yang satu lagi, itu tidak akan menganggumu karena keindahan yang menyeluruh dari pantai ini. Keindahan yang tercipta dari pohon bakau, karang, pasir, ikan, laut serta gunung yang dihantarkan oleh sebuah jembatan kayu Coklat menciptakan keserasian warna dan keindahan yang sempurna. Ehm…..rasanya semuanya ingin disimpan didalam kotak dan dibawa pulang kerumah.
***

Namun semua itu menjadi egois dan tidak akan menjadi hidden paradise lagi…. Setelah itu, kamu berjalan
kembali menyusuri jembatan panjang tersebut sambil membawa gambaran indah di pikiran mu untuk kamu nikmati setiap saat ketika penat dalam kegiatan sehari-hari. Keindahan yang sudah tersimpan di memori mu sampai kamu tua atau pikun nanti. Dan itulah Hidden paradise yang aku temukan di Manado, Pantai Tongkaina, Grand Luley Beach. Rasanya tidak akan pernah bosan membayangkan diri berada disitu.

Selain pengalaman luar biasa diatas, tentu saja Bunaken menjadi tempat wajib untuk dikunjungi. Memasuki bawah air dengan sub sea boat, menikmati terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang kesana kemari dengan sesekali terdapat penyu besar yang berenang seolah untuk mengucapkan “Hi, Hello”. Kalau selama ini, selalu melihat ikan laut di aquarium seperti ikan batman, dory, clown fish, pidana, botana, dakochan, blue devil dan lainnya, sekarang semua itu dapat dilihat dihabitat aslinya. Atau mungkin kita seperti bertukar posisi :D. Karena menggunakan sub sea boat yang memiliki jendela kaca, kita seperti berada di aquarium dan menjadi pemandangan bagi ikan-ikan tersebut J.  Tiba saatnya kita menyelam dan menikmati bersentuhan langsung dengan ikan-ikan tersebut. Biar ikan-ikan tersebut mendekat, pastikan membawa biskuit untuk disebar. Ikan-ikan akan berdatangan dan jika beruntung, kamu akan merasakan tanganmu di kecup oleh ikan yang mengira itu adalah biscuit. Tapi jadi tidak beruntung kalau ikan yang mengecup memiliki gigi besar J. Namun karena guidenya menyibukkan kita untuk foto bawah laut, akhirnya kita tidak punya waktu yang cukup untuk menikmati keindahan Taman Bawah Laut Bunaken ;( dan alhasil foto dibawah lautnya juga ga ok., lebih menyesal lagi. Bagaimanapun, So pernah batobo di Bunaken? (dibaca
dengan logat orang Manado)


Satu hal yang aku pelajari di Manado adalah Stop Photo Session, Start Enjoying the View from your own eye. Ketika menemukan tempat yang menarik, kita seringnya ingin mengabadikannya dalam bentuk foto. Hal ini membuat kita tidak dapat menikmati keindahan tempat tersebut secara maksimal. Saranku adalah nikmati lah tempat tersebut terlebih dahulu dan berfotolah disaat terakhir sebelum meninggalkannya. Atau kalau memang sangat doyan difoto, tugaskan saja seseorang untuk menjadi fotografer pribadi yang mengambil foto di tempat tersebut dan dirimu secara candid sambil kamu menikmati keindahannya.

Friday, July 12, 2013

Uniquely Palembang


Perjalanan ke Palembang memberikan pengalaman menarik buatku. Menyaksikan aktivitas dan kebiasaan unik masyarakat Palembang sampai ke cerita rakyat mengenai Pulau Kemaro. Awalnya aku berpikir bahwa Palembang It’s just another city without any interesting story in it kecuali Jembatan Ampera yang diiklankan di Bandara Jakarta, tapi setelah melihat 4 hal dibawah ini, aku rasa Palembang bisa dijadikan salah satu objek wisata international yang menarik. 
 
1.      Vintage-nya Jembatan Ampera
Pada kunjungan pertama kali ini, krn padatnya parkiran di daerah Pasar 16 Ilir, akhirnya kita harus parkir dibawah Jembatan Ampera. Dan ketika diperhatikan, WowTernyata sangat jauh dari image di pikiranku yg tercipta karena billboard di Jakarta. Warna Cat di jembatan yg sudah mulai luntur krn cahaya matahari membuat jembatan terlihat sudah usang, jauh dari image megah yg ditampilkan di billboard. Seorang teman juga bercerita bahwa harusnya Jembatan Ampera, bagian tengahnya bisa diangkat untuk lalu lintas kapal besar, namun karena prilaku orang tidak bertanggung jawab mencuri onderdil dan aksesoris tembaga lainnya utk kebutuhan katrol, akhirnya fungsi pengangkatan dihilangkan oleh pemda utk keamanan. Namun, aku tetap berfoto di bawah jembatan Ampera, dan kalau mau dilihat dari perspektif vintage dengan bantuan photo editing, Jembatan Ampera masih bisa terlihat menarik. :D. Dengan pembaharuan, harusnya memang Jembatan Ampera masih dapat menjadi ikon yang menarik


2.      Sungai Musi & Pulau Kemaro
Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatra memiliki rata-rata lebar sepanjang sungai 540m dengan Lebar maksimal 1.350m dan lebar minimal 250m. Sungai ini membelah Palembang menjadi 2 bagian yaitu sebrang Ilir dan Sebrang Ulu (basaha Indonesia : Hilir & Hulu). Daerah yang paling berkembang adalah daerah Sebrang Ilir. Sungai Musi ini menjadi jalur transportasi penduduk transmigrasi yang tinggal di area pinggir Palembang. Pada saat melihat Sungai Musi, langsung terpikirkan Sungai Chao Praya Thailand yang dijadikan salah satu atraksi wisatan dimana kita diajak untuk ke suatu Vihara (lupa namanya) dengan perahu dan juga berhenti di satu spot untuk memberi makan ikan-ikan sungai tersebut. Harusnya Sungai Musi juga dapat dijadikan tourism spot yang lebih menarik dari Chao Praya karena Lebar sungai yang dimiliki ditambah dengan memperindah area pinggiran sungai serta kapal-kapal nelayan sehingga layak menjadi tempat wisata bertaraf international. Menurut informasi teman, saat ini pembenahan sudah mulai dilakukan, sidewalk sudah dibuat, pusat kuliner juga sudah tertata rapi. Namun masih butuh kerja keras semua pihak untuk menjadikan Sungai Musi sebagai tempat wisata bertaraf international dari sisi kebersihan, keteraturan dan keindahan area sekitarnya.

Sungai Musi juga melewati Pulau Kemaro yang memiliki Pagoda bertingkat 9 dan menjadi pusat ibadah Penganut ajaran Kong Hu Cu. Setiap Ce It Cap Go dan hari besar etnis Tiong Hoa, Pulau ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Tiong Hoa untuk beribadah ataupun sekedar piknik keluarga. Pulau Kemaro bisa dikunjungi dengan kapal-kapal nelayan dengan tarif 25-35 ribu rupiah tergantung negosiasi dengan tukang perahunya. Disebrang Pulau Kemaro terdapat PT. Pusri yang juga dengan aktif mendukung kegiatan hari besar masyarakat Tionghoa dengan cara mengadakan Jembatan dadakan yang disusun dari Jejeran Kapal Tongkang Milik PT. Pusri sehingga dapat dilewati oleh masyarakat yang ingin mengunjungi Pulau tersebut. Pulau Kemaro tersebut juga menyimpan legenda rakyat. Diceritakan dahulu kala pada jaman kerajaan Sriwijaya, Palembang merupakan salah satu tempat yang di datangi oleh penduduk negri Cina untuk menimba Ilmu dan terdapat satu Pangeran, Tan Bu An yang jatuh cinta pada Putri Siti Fatimah. Akhirnya sang putri dibawa pulang ke negri Cina untuk dinikahi. Dalam perjalanan pulang ke Palembang, sang Pangeran dibekali 9 guci oleh orang tuanya dimana didalam Guci diisi dengna sayur-sayuran dan buah-buahan untuk bekal diperjalanan. Ketika masuk ke perairan Sungai Musi, sang Pangeran membuka isi guci dan menemukan isinya adalah sayur-sayuran, sang pangeran pun menjadi kesal karena dianggap tidak bernilai. Sang pangeran akhirnya membuang guci-guci tersebut ke sungai. Dan saat membuang guci terakhir, tidak sengaja Guci tersebut jatuh dan pecah, emas-emas pun berhamburan di kapal dan akhirnya sang pangeran tersadar bahwa 8 guci yang sudah dibuang tadi, semuanya bersisi emas yang diatasnya ditutupi dengan sayur-sayuran untuk menghindari perampokan di laut. Karena ingin mengambil kembali guci-guci tersebut, akhirnya sang pangeran terjun ke dalam sungai. Lama ditunggu tidak muncul-muncul, akhirnya Putri Fatimah pun ikut menenggelamkan dirinya ke sungai. Sang Pangeran dan Sang Putri tidak pernah muncul kembali ke permukaan dan saat itu munculah Pulau Kemaro tersebut.

3. Kau Menyanyi Kau Membayar
Dalam perjalanan ke mobil setelah selesai melakukan kunjungan ke pasar Ilir, terlihat kerumunan orang yang menyanyi dan berjoget dipinggir sungai Musi dengan sound system yang cukup lengkap untuk musik jalanan. Namun yang unik adalah bukan kerumunan orang berjoget bersama namun ternyata itu merupakan kegiatan bisnis penyewaan sound system jalanan. Jadi pemilik sound system akan membawa alat-alatnya dan bagi yang ingin menyanyi, mereka dapat menyewa alat-alat tersebut. Jika di Jakarta penyanyi jalanan/pengamen akan diberikan sumbangan ala kadarnya, di Palembang, mereka harus menyewa peralatan sendiri. Mungkin kalau kebiasaan tersebut diterapkan di Jakarta, dampaknya adalah pengamen Jakarta akan berkurang atau memang semua pengamen jalanan akan memiliki standard mengamen yang lebih advance :)

4. "Menghirup" Kuah Pempek
Di Jakarta, pempek merupakan salah satu dari pilihan kudapan ringan yang harus bersaing dengan bakso. Kuah pempekdi Jakarta diberikan potongan timun dan sejenis abon ebi yang akan diseruput dengan sendok. Namun untuk Wong Kito, pempek merupakan snack setiap saat dan setiap hari. Tempat makan pempek pun sudah seperti kopitiam, orang berkumpul bercengkrama sambil nynack pempek. Dan yang menarik adalah kuahnya yang lebih kental daripada Jakarta dimasukkan di cangkir kecil dimana cara makannya bukan dengan mencelupkan pempek ke dalam kuah namun kuahnya di"hirup" (langsung diminum) seperti minum kopi. Pertama kali melihat temanku meng"hirup" kuah tersebut langsung kaget, namun pas dilihat ke sekililing, ternyata semua melakukan hal yang sama.

4 hal diatas membuat perjalanan bisnis menjadi lebih menyenangkan, dan mungkin jika aku tinggal di Palembang lebih lama lagi, akan terlihat lebih banyak lagi keunikan yang bisa diceritakan yang menunjukkan keragaman nusantara kita.

Salam : Wong Kito Galo

#1st101                             

Saturday, July 6, 2013

Indahnya Gn. Bromo dari GL Pro

Terbitnya matahari menjadi simbol hari yang baru, kesempatan dan tantangan yang baru. Salah satu tempat terindah menurut orang-orang untuk melihat matahari terbit adalah Gunung Bromo, oleh karena itu dalam rangka ulang tahun dan pergantian karir suami, kita memilih perjalanan ke Bromo sebagai awal yang baru dalam hidup.
Meskipun referensi di internet mengatakan perjalanan ke gunung Bromo menggunakan Jeep, namun karena kita hanya berdua, akhirnya disarankan oleh Petani yang juga berprofesi sebagai guide local ke Bromo untuk menggunakan ojek saja. Awalnya aku berpikir kita akan naik motor cross, membayangkannya saja sudah seru sekali tapi ternyata kita pakainya motor GL Pro.
Anyhow, keesokan paginya jam 3.30 kita sudah bersiap di posko untuk perjalanan dengan GL Pro. Dengan suasana malam yang gelap gulita dan dingin mencekam, kita bekali diri dengan dua potong roti supaya tidak masuk angin apalagi naik motor. Perjalanan dimulai dengan melintasi kaki gunung yang berkelok-kelok. Keindahan dan serunya perjalanan sudah sangat terasa dimulai dari awal perjalanan dimana sepanjang perjalanan kita dapat melihat langit hitam bersih yang bertabur bintang seperti berada di planetarium atau luar angkasa. Sepanjang perjalanan kita hanya diterangi oleh cahaya lampu motor dan bintang. Keseruan bertambah ketika kita harus menembus kawanan kabut yang mempersempit jarak pandang dan serasa seperti memasuki dunia lain :D. Gelapnya malam di area asing menaiki motor membuat kita terasa seperti dapat menyatu dengan alam dan penduduk local.
Meskipun kita tidak berhasil melihat matahari terbit dengan sempurna (merah bulat sempurna), namun warna merah orange dan birunya langit pada saat matahari terbit tertutup awan tetap menarik hati. Langit terlihat seperti lukisan yang sangat sempurna dengan perpaduan dan gradasi warnanya. Langit pun seperti panggung sandiwara yang memiliki lighting control dimana perubahan langit dari yang gelap gulita menjadi merah kekuningan dan akhirnya biru langit yang sangat bersih dihiasi awan-awan putih seperti kerajaan langit. Mengagumkan…
Perjalanan kita lanjutkan ke kawah Bromo dan disini perjalanan menjadi sangat (benar-benar sangat) seru dengan motor. Seperti berasa mengendarai motor cross di arena off road karena perjalanan kita benar-benar naik dan turun gunung. Khusus untuk cewe-cewe yang mau naik motor, pastikan motor guidenya punya handle besi di area belakang atau kamu harus menggunakan otot perut untuk menahan supaya badan kita tidak menempel ke badan yang nyetir. Dan selesai dari tour bromo itu, perut terasa seperti habis sit-up 200 kali (trust me, its works!).
Memasuki area kawah Bromo yang penuh dengan hamparan padang pasir hitam, kita seperti berada di iklan M***boro yang terasa sangat adventurous dan bebas. Hamparan padang pasir yang luas mengulik jiwa muda suami dengan meminjam motor guidenya dan akhirnya kita boncengan melintasi padang pasir. Ini pertama kalinya kita naik motor sejak berkenalan, pacaran dan menikah (Senyum-senyum sendiri mikirin moment tersebut).
Naik Motor ke Kawah Bromo juga memiliki keuntungan tersendiri karena kalau naik Jeep, turis harus jalan kaki cukup jauh jika tidak mau naik kuda menuju tangga ke kawah Bromo. Tapi dengan naik motor, guidenya dapat membawa kita melintasi padang pasir yang berkelok-kelok naik turun yang totally offroad. Kemampuan bawa motor guidenya sangat mengagumkan sekali. Tanjakan, lintasan sempit dan miring pun dapat dilalui oleh guidenya untuk membawa kita hampir sampai dibawah tangga kawah. Namun kalau mau melihat kehebatan penduduk desa membawa motor di area kawah Bromo, kita harus datang pagi-pagi sekali sekitar jm 4 atau 4.30 dimana dengan motor mereka bisa membawa semua barang dan perlengkapan dagang mereka tepat dibawah anak tangga kawah Bromo.

Kawah bromo sendiri buatku sebenarnya tidak terlalu berkesan, hal ini disebabkan karena harus menaiki tangga yang sangat melelahkan sehingga sesampainya di puncak, aku sibuk menarik nafas tanpa bisa menikmati pemandangannya. Namun semua itu tergantikan ketika kita naik motor menuju ke bukit teletubies. Perjalanan di padang pasir yang dikelilingi oleh kaki kaki gunung bromo yang gagah dan megah. Dinding dinding gunung yang ditumbuhi tanaman berdiri dengan gagahnya seperti tembok besar yang melindungi kota. Bukit teletubies yang bergundukan dan hijau sempurna tertutupi oleh rumput membuat kita seperti berada di tempat yang sangat damai sambil membayangkan diri berguling-guling dan bermain di rerumputan.   Karena kondisi musim hujan (yang seharusnya sudah musim panas), area menuju bukit teletubies ditumbuhi oleh tumbuhan semak berbunga sehingga kita seperti berada di padang rumput. http://youtu.be/EgXAOOy5bs4

Dan indahnya alam di kawasan Bromo sangat mengundang kita untuk kembali ke tempat itu. Bahkan kupu-kupu pun bermain dengan kita, terbang dan hinggap di tangan, motor dan baju kita serasa sangat bersahabat :). Local Guide di Desa Ngadiwono Kec. Tosari, Kab. Pasuruan Bromo : Juari 082 331 390 957 dan Mas Adi (fotonya disebelah kiri)

Jika kita datang pada saat musim sudah panas maka kita akan dapat melihat Matahari Terbit bulat merah sempurna, namun tumbuhan semak berbunga terlihat kering, namun jika kita datang pada saat musim hujan, kita hanya akan melihat lukisan langit yang berwarna merah kekuningan karena matahari tertutup awan tapi sebagai gantinya kita akan disuguhi padang rumput yang indah. Hal ini menjadikan kita harus datang ke Bromo minimal 2x di musim yang berbeda. Dan menurutku secara pribadi, keindahan Gunung Bromo Lebih bagus daripada Mt. Cook di New Zealand pada saat aku kunjungi di Nov 2011 yang lalu.

Bravo Bromo !
* Pengen upload semua foto tapi bakal bikin page berat loadingnya ;), jadi datangi sendiri aja langsung :)
#1st 101 before 30