Showing posts with label Terus Belajar. Show all posts
Showing posts with label Terus Belajar. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

Bapak Tua dan Gerobaknya

Pernahkah kita merasa tidak ikhlas/curiga/sebal ketika kita memberikan sedekah kepada orang lain yg meminta secara langsung kepada kita? Jika jawabannya "Iya", pertanyaan berikutnya adalah "kenapa?". Kenapa ketika sudah memberi, hati masih tidak ikhlas?.

Ketidak-ikhlasan tersebut baru saja kualami lagi kemarin dimana seorang Bapak tua yg aku asumsikan sebagai tukang loak/gerobak aku berikan/minta ambil barang-barang bekas bongkaran dari gudang. Setelah semua barang dimasukkan ke gerobak, aku siap-siap mengantar Bapak tua tersebut kedepan rumah namun tiba-tiba bapak tua bertanya "ngga ada uang rokok?", "Ha?kan bapak uda ambil barang-barang ini", jawabku spontan. Dalam hati berpikir 'seharusnya kan Bapak tersebut sudah mendapat keuntungan ketika nanti barang-barang bekas tersebut dijual, koq masih minta uang rokok?'. Karena Bapak tersebut masih bertanya, akhirnya akupun memberikan ala kadarnya dengan perasaan kecewa. Setelah itu, tanpa pikir lama, aku pun langsung ngadu dan komplain ke teman dan suami.

kejadian ini juga mengingatkan ku pada kejadian jaman dulu dimana ketika aku sampai di depan rumah, tiba-tiba ada motor berhenti disampingku dan minta sedekah untuk beli susu anaknya. Pada saat itu, aku masih ingat sekali di dompetku tersisa 2 lembar, 1 = 10rb, satu lagi 50rb. Coba tebak yg mana yg aku kasih?. Dalam hati merasa tdk ingin tertipu, tapi ada sedikit rasa tidak tega akhirnya pun aku memberikan uang 10rb ku. Dan pas masuk rumah, langsung saja aku ngoceh ke orang rumah.

Setelah mengoceh, terlintas dipikiran kenapa aku tidak memberikan 50rb saja y? kalau memang dia mau nipu ataupun memang benar2 butuh, sebenarnya dia bisa minta ama siapa saja yg ada dijalan, kenapa bisa pas sekali dia harus meminta ke aku? mungkin memang seharusnya itu adalah kesempatan ku utk berlatih Memberi.

Sama seperti dengan Bapak Tua kemarin, setelah mengocehpun akhirnya terlintas di pikiran, kenapa harus mengoceh dan tidak ikhlas?. Saat memberi adl saat aku memupuk karma baik, tapi dengan aku mengoceh, alhasil bukan hal baik yg dipupuk, malah hal yg tidak baik :'(.

Meskipun aku percaya bahwa memberi adalah hal yg baik, namun memang perlu untuk selalu mengingatkan diri belajar memberi dengan Ikhlas. Gambatte!!!.
~Menerima = Mengambil sisa~
~Memberi = Mendapat yg Baru~

Saturday, July 13, 2013

The Connecting Dots*

13, 17, 21, 22, 23, 25, 27, 29, ....
How old am I? I'm 29. some say its just a number, some say wisdom goes along with the number, some even doesn't want to know the numbers.
For me, those numbers are connecting dots(~Steve Jobs) that makes me who i am today
13
will bring bad luck, some people say, but i think it works the other way around for me. Born on 13th and in my 13th year of living on earth, was the moment when i entered my teenage period, started to feel teen, entered high school, introduced first time to Winning feeling through basketball.
17
was the year when i introduced to "semi real world". Year when i made promised to myself to start be independent girl(at that time :D ) start from Earning my own pocket money(did i success 100%? a bit forgotten:p ). First time have a real part time job as Promoter Girl (hard sales girl, for exact) for some small cosmetic shop. This was the moment when i learnt how fear and shame won't help me in persuading others buy things for me.
This year had lead me to entering sales world career up to today. Start from promoter girls and end up being Campus Promotion team that gave me opportunity to interact with other cities culture. 
This year also introduced me to English Club in Campus that had a great deal in myself confidence development.
21
was the year when i really really learnt that "Life is Hard". In order to Survive, i have to stand strong & wipe away tears (eventhough i rarely cry at that moment). I Worked in one company that popular with its pressure. It taught me to seize every opportunity to achieve the goals. And somehow in the surviving moment I've made wrong and decisive decision that is regretted forever in my life. and it also thought me that life is not all about work and company and when i go along with this perspective, i work and achieve better (i think this is the effect of work life balance, stressless work better).
This was also the year when i learn how to negotiate with traffic police when i violating traffic rules (not on purpose, of course) :)
22
was the year when i first have relationship with man (Man really mean Man that is >5 years older than me) and introduce me to higher education perspective.
This was also the year when i join self motivation & development institution as coach for teenagers. Its not only coaching others but its also remind me to be Bigger Than Me
23
was the year when i realized that i need to do something really different to accelerate myself value. its not enough to just keep running, but i have to Jump.
I granted with scholarship that i never ever dare to think that i'm capable of it before 22.
This is also the year when i learnt that diversity is beautiful. We are better in diversity.
25
was the year when i feel the want of marriage. Never imagined myself to have that kind of want since i surrounded with 2 big brothers and all their boy friends.
This also the year that gave me opportunity to explore the creative side of me in marketing world
27
Marriage and realized that Marriage is not an easy job. It can't be a part time job. This is also the year when i realized that we can survive and live without housemaid
29 is today. its the year when i realized i havent done enough for myself and surroundings (realized 1 month before). I make #1st 101 before 30 self agreement to ensure i will be able to learn and do more valuable things. This is also the year when i consider to consume less for myself and give more to others (sounds so great and phylantrophy, right? hope i can really make it and not just a forgotten writing :p )
And there are (or maybe there are not, who knows) others number waiting for me to understand and learn more in life.
Lets Seize The Day!
*after i re-read again this writing, its sounds so positive but then i also experienced and felt the negative "dots" throughout that numbers period. but since today is a good day, i can only share good things
:)

Friday, June 1, 2012

WowTernyata "Nyesel Kalau Pas Kuliah, Belajarnya Ngasal"

Hmmm, uda beberapa hari ini nyoba kotak-katik blog ini secara baru belajar ngeblog. Banyak sekali menemukan istilah "Feed", "Feed Burner", HTML dll yang bikin aku mengernyitkan dahi sambil berpikir "Apaan ini?". Setiap kali muncul coding html rasanya susah dan bikin aku berhenti. Kalau uda begini rasanya nyesel pas kuliah ilmu komputer dulu, belajarnya ngasal asal lulus ;(. Pada saat kuliah, aku memang tidak memiliki minat besar di dunia komputer dan hanya menuruti anjuran dari mama "ambil jurusan komputer aja, ntar masa depan kamu gampang, banyak kerjaan". Dan akhirnya berakhirlah aku di Binus, namun selama masa kuliah aku lebih fokus pada kegiatan klub mahasiswa berbasis bahasa inggris http://mybnec.org/home/index/ yang tidak bisa dipungkiri bahwa aku belajar & berkembang sangat banyak di klub ini, bahkan beberapa poin penting yang mendorong kemajuan dalam hidupku berasal dari klub ini,  aku belajar untuk tidak gemetaran & menggoyangkan podium ketika melakukan presentasi, aku belajar berhubungan & memimpin orang lain dan bagaimana aku belajar  membuat mimpi yang besar dan memiliki keinginan besar untuk mengembangkan diri. Pengalaman berorganisasi diklub ini pun tertoreh diCV ku dan menjadi pendukung dalam meraih pekerjaan yang aku inginkan dan beasiswa kuliah tingkat lanjutan . Dalam 1 hari kuliah, aku bisa menghabiskan 12 jam di kampus dimana 4 jam maksimal untuk kelas pelajaran dan 8 jam untuk kegiatan klub tersebut. Aku melakukan hal tersebut karena aku merasa senang dan merasa seperti mengembangkan "keluarga" sendiri dan tanpa disadari aku mulai menyukai dunia yang berhubungan dengan leadership, interpersonall skill sehingga aku mengesampingkan hard skill yang bisa aku pelajari juga.

Mulai dari beberapa bulan yang lalu, aku mulai menyentuh dunia internet untuk pekerjaan dalam bentuk penggunaan social media dan semakin hari aku semakin berpikir bahwa seharusnya aku bisa melakukan lebih banyak di social media. Suatu hari, aku mengikuti acara bedah buku, disitu ada membahas tentang Personal Branding dan ada quote "Life is short, Start Create Your IBrand". Quotes tersebut sangat menggelitik ku dan aku berpikir, "benar juga ya", pengen sekali ketika menelepon seseorang dan mengucapkan "Hallo, ini Lyly, apa kabar?", semua orang sudah langsung mengingat diriku, namun seringnya harus bilang "Hallo, ini Lyly dari XXX (menunjukkan nama perusahaan)". Kata IBrand mulai membuatku berpikir cara untuk menciptakan hal tersebut. Dan salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan channel Internet baik social media, website maupun blog, dll. Aku sudah punya social media (yang ga aktif), aku juga punya website (yang sudah ga aktif, bahkan sepertinya pagenya sudah dihapus), sehingga aku memutuskan untuk mengaktifkan kembali account social media ku dan ditambah aku selalu ingin menulis dari dulu tapi selalu ada alasan untukku tidak menulis, sehingga aku putuskan untuk membuat Blog yang juga dipicu untuk menceritakan hal-hal kecil yang ternyata aku baru tahu meskipun sudah berumur X8 ini dan Blog ini aku namakan http://wowternyatabarutahu.blogspot.com/.


Setelah membuat blog ini, aku mulai menulis dan mulai menambah fitur-fitur yang bisa membuat blog ini terlihat lebih menarik, disinilah mulai muncul masalah karena ternyata fitur yang bisa ditambahkan di dalam blog tidak semua tersedia dalam bentuk "one-clik", ada banyak yang harus menggunakan tambahan coding html dan istilah dunia IT yang tidak pernah aku perhatikan semasa kuliah. Memang aku bisa meng-googling arti dan maknanya karena saat ini semua orang sangat senang berbagi informasi namun itu sangat memakan waktu dan ditambah aku tipe pembelajar yang lebih senang bertanya kepada orang lain daripada melakukan explorasi di dunia digital. Hal ini membuatku berpikir jika dulu aku belajar lebih serius, mungkin aku akan terbiasa berhubungan dengan dunia internet yang akan sangat membantuku dalam proses pengembangan semua hal berhubungan dengan dunia internet saat ini.

Sejak pertengahan kuliah dimana aku mulai aktif dengan dunia organisasi, aku memang memutuskan untuk tidak akan terjun di dunia komputer dan IT sehingga aku memang tidak berpikir akan banyak membutuhkan ilmu-ilmu yang aku pelajari. Sehingga suatu hari, dosen S2 ku pernah bertanya "apa yang kamu pelajari dari kuliah S1 mu?" dan aku tidak bisa menjawab dengan tepat karena aku merasa tidak banyak yang nempel di kepalaku. Namun tak disangka tak dinanya, di tahun 2012 tiba-tiba aku memutuskan untuk masuk menyentuh dunia ini yang seharusnya aku memiliki fondasi latar belakang pendidikan yang kuat tapi ternyata tidak. Nasi Sudah Menjadi Bubur, saat ini aku memang mencobal melakukan usaha 3x lebih keras untuk bisa mencapai apa yang aku inginkan dari dunia internet ini. Dan ini merupakan pembelajaran yang luar biasa yaitu Ketika kita memiliki kesempatan untuk mempelajari sesuatu hal yang mungkin tidak relevan, tidak penting pada saat ini, tetaplah untuk mempelajari dengan sebaik-baiknya karena itu merupakan investasi yang mungkin bisa terpakai dimasa yang akan datang. Tetaplah untuk terbuka terhadap wawasan baru dan jangan berpikir bahwa ini sudah cukup dan kita sudah hebat, karena disetiap lingkungan yang baru, maka kita akan menemukan hal yang baru dan pada saat itu semua pembelajaran yang sudah terkumulatif akan sangat membantu kita dalam berkembang di suatu lingkungan.

Kalau bisa sempurna dalam banyak hal, kenapa harus memilih sempurna dalam satu hal saja? :)
Ps: bahkan ketika hampir selesai menulis postingan ini, aku baru mengetahui WowTernyata ctrl+N bisa langsung membuka windows browser baru dengan page kita yang lagi aktif :p


Sunday, May 27, 2012

Habis Gelap Terbitlah Terang & Akhirnya Menemukan Pasangan Hidup

Topik ini datang padaku ketika aku bangun pagi 2 hari yang lalu. Mungkin banyak sudah yang mengatakan hal yang sama "segala sesuatu ada dua sisi, negatif & positif, tergantung kita mau lihat sisi mana", namun sebanyak orang yang mengatakan hal tersebut, sebanyak itu juga yang ketika dihadapi pada kondisi yang sulit, hanya mampu melihat sisi negatif yang membuat diri semakin terpuruk. Sehingga aku tetap ingin menulis topik ini untuk mengingatkan diriku ( dan kamu, jika berkenan) ketika menghadapi masa yang sulit, harus selalu membuat diri mampu melihat sisi positif yang dapat membangkitkan diri untuk terus berusaha.

Malam itu, sebelum aku tidur, aku tiba-tiba kepikiran perjalanan karirku sejak tahun 2005, dimana aku memulai pekerjaan setelah lulus kuliah dibidang sales di perusahaan distributor produk seperti biskuit Tango, dll. Jika menyebut nama perusahaan tersebut, maka semua orang akan sepakat dengan kalimat ini "wah gila, tuh ma perusahaan yang mental pressurenya sangat tinggi, kasar & keras hidupnya". Ya, sebagai alumni dari perusahaan tersebut, memang semua itu aku alami, bahkan kata "bre**s*k" pun pernah aku terima yang membuat ku cukup shock secara aku masih fresh grad. Semua terasa begitu menyesakkan dada, dimulai dari tidak adanya waktu untuk bersosialisasi dengan teman, keluar dari rumah sebelum matahari terbit pulang setelah matahari terbenam, lingkungan kerja yang saling "lempar bola" (lempar tanggung jawab), menghadapi kata "gue ga mau tahu, pokoknya....", dsbnya. Namun setelah aku resign dari perusahaan tersebut, aku menyadari semua kondisi dan situasi yang aku hadapi diperusahaan tersebut telah mengembangkan tingkat daya juang dan memiliki mental yang kuat untuk menghadapi semua tantangan. Setelah 1.5 tahun aku bekerja disitu, aku sudah benar-benar mempelajari dan mempraktekan "Tidak Ada Yang Tak Mungkin ketika kita diposisikan di kondisi kepepet". Selain itu, kenangan yang pastinya tidak akan pernah hilang dari ku adalah kenangan bertemu dengan pria yang menjadi suamiku saat ini :D. Karena kondisi pekerjaan yang padat, mulai membuatku beripikir untuk mencati "teman" yang bisa menjadi tempatku bersandar ketika aku lelah, dan disitulah aku bertemu dengan dia yang akhirnya sekarang sudah menjadi teman hidupku. Jika sekarang, ketika orang bertanya tentang perusahaan tersebut, aku akan selalu bilang "kalau punya saudara yang baru lulus kuliah, maka kasih kerja aja disitu 1-2 tahun untuk latihan mental, tapi jangan lama-lama" :D

Ketika aku kuliah jenjang S2 dimana lokasinya sangat jauh dari rumahku dan sangat terkenal dengan jam kuliah yang super padat (jam 8AM-4PM) dan tugas yang tiada akhir yang sering membuat mahasiswanya pulang malam sekali. Kegiatan ini memang dirancang oleh Perguruan tinggi ini untuk mempersiapkan mahasiswanya menghadapi dunia kerja yang tidak selalu manis & lembut. Saat itu, karena lokasi yang jauh, sang pacarpun menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang rumah. Namun kondisi perjalanan yang melelahkan karena harus menghadapi kemacetan dari kantornya ke kampus sekitar 1 jam, perjalanan pulang ke rumahku sekitar 1.5-2 jam, terus melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya sekitar 1 jam, dengan total waktu 4 jam untuk perjalanan pulang, padahal kalau dia langsung pulang dari kantor ke rumahnya, mungkin hanya mengambil waktu 45 menit, tidak jarang membuat pacarku jengkel jika masih harus menunggu aku dikampus, hal ini otomatis membuatku memiliki jam pulang dari kampus yang membatasi ku dalam penyelesaian tugas dan pergaulan dengan teman sekelas.  Namun setelah dipikirkan lagi, kondisi ini telah memaksaku untuk belajar menjadi orang yang lebih fokus dan efektif dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Hal ini juga aku syukuri karena sudah bisa membuatku pulang lebih awal (sekitar jam 7) yang jika dibandingkan dengan mayoritas teman sekelasku yang sangat sering pulang diatas jam 9 malam. Selain itu, hal ini juga membantuku melihat bagaimana supportivenya pacarku terhadap pengembangan diriku yang membuatku memilih dia sebagai pansangan hidupku.
Kehidupan masa kecilku, berasal dari keluarga yang pas-pasan yang harus memanjat tembok rumah untuk mengintip siaran TV dirumah tetangga yang kalau ketahuan sama tetangganya, maka TV tersebut akan digeser sehingga kita tidak bisa lihat lagi, pelit sekali bukan tetanggaku tersebut? :D. Selain itu, kadang menu makan malam kita juga adalah nasi putih diberikan minyak B2, dan kecap manis, meskipun rasanya sangat aku senangi bahkan sampai sekarang, nasinya terasa wangi sekali meskipun kurang bergizi dan yang ada hanya lemak. Atau ibuku harus membawa kita kerumah tetangga, dan membantu membereskan rumah orang tersebut yang digantikan dengan sekali makan malam untuk kita anak-anaknya. Aku tumbuh menjadi remaja yang lebih tangguh dan memprioritaskan materi yang akhirnya membuatku memasuki dunia sales sebagai SPG untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena adanya pikiran untuk tidak ingin minta uang jajan dari orang tua setelah berumur 17 tahun. Pengalaman SPG semasa kuliah, membuatku mengambil karir dibidang penjualan untuk selanjutnya, yang akhirnya mengasah kemampuan komunikasiku dan membuatku menjadi seorang negotiator dan public speaker yang cukup handal dilingkunganku yang membawaku berhasil meraih Beasiswa untuk melanjutkan kuliah jenjang S-2. Selain itu, pengalaman masa kecilku juga membuatku menjadi orang yang sangat terencana (hemat) dalam hal keuangan yang mampu membuatku berbelanja berdasarkan faktor fungsional yang mungkin banyak wanita merasa kesulitan untuk menghindari impulse buying. Dan karena masa kecil yang sehari-harinya berlalu tanpa snack, secara tidak sadar membentuk kebiasaan baik pas dewasa dimana aku tidak pernah senang dengan snack yang akhirnya membantu menjaga bentuk tubuhku apalagi aku mengetahui ternyata banyak temanku yang merasa kesulitan untuk menghindari snacking meskipun mereka sadar bahwa hal itu tidak baik untuk kesehatan.

ketiga bagian cerita diatas, menunjukkan padaku bahwa sesulit apapun kondisi yang harus aku lalui, selalu akan ada hal baik yang menantiku dan ku harap, hal ini selalu bisa kuingat dan menjadi pegangan ku ketika menghapi kesulitan karena seperti kata pepatah, "Habis Gelap Terbitlah Terang". Semoga kamu juga bisa memegang pepatah ini untuk menghadapi kesulitan yang ada.



Monday, May 21, 2012

WowTernyata "Lempar Koin = Kata Hati"

Ketika masih SMA & kuliah S1, kalau pas lagi curhat atau dengerin teman curhat, pada akhir sesi pasti akan selalu keluar kalimat ini "Dengerin kata hatimu". Kata Hati? maksudnya bagaimana? meskipun pada saat itu aku tidak mengerti maksud dari kata hati, tapi kalau mendengar atau mengucapkan kata-kata tersebut rasanya keren, rasanya nasehatnya berbobot sekali. Contohnya ketika ada 2 teman pria yang sepertinya menarik, tapi binggung milih yang mana, maka akan ada saran "Dengerin kata hatimu aja", meskipun akhirnya aku memilih mengikuti kata mama ku "Kalau mau sekolah jangan pacaran, tar kalau patah hati, sekolah berantakan, lagian kalau pacaran ga enak, kemana-mana terikat, kalau sendiri kan kamu mau kemana-mana bebas" :p.

Seiring perjalanan hidup, setelah lulus kuliah, masuk kerja, kuliah lagi, masuk  kerja lagi, sedikit demi sedikit akhirnya aku berpikir aku mulai mengerti maksud "Kata Hati". Menurutku, Kata Hati/hati kecil/nurani merupakan bahasa yang bisa digunakan untuk mengungkapkan diri kita yang sebenarnya sama seperti ketika kita baru lahir ataupun masih kecil dimana kita selalu sangat jujur terhadap diri sendiri & orang lain, selalu tahu apa yang kita mau dan apa yang tidak kita sukai. Namun seiring berjalannya waktu ketika kita mulai dewasa dan berinteraksi dengan lingkungan, banyak dari kita mulai kehilangan kejujuran terhadap diri sendiri, kita mulai tidak memperhatikan apa yang diri kita inginkan, kita mulai memberikan pembenaran-pembenaran berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga ketika dibilang "Dengerin Kata Hatimu", kita menjadi binggung, Kata hati? apa kata hatiku? yang ada kita mengikuti Kata Pikiran, mencoba melakukan perbandingan jika melakukan satu hal, apa positif dan negatifnya, lebih banyak positif atau negatif dan memutuskan berdasarkan banyaknya nilai di salah satu sisi. Cara pengambilan keputusan seperti ini juga sangat sering diajarkan disekolah/kuliah. Dan belum pernah ada sekolah umum (sepengetahuan saya) yang mengajarkan mengambil keputusan berdasarkan Kata hati. 

Kata hati adalah pilihan diri yang ketika diikuti, tidak akan ada rasa bersalah, kita akan merasa tenang ketika mengambil keputusan tersebut karena tidak ada penolakan dalam diri. Jika masih terlalu abstrak, coba gunakan trik Melempar koin. Contoh: Ketika kita binggung memilih harus makan Wendy's atau Solaria, dan kita mencoba melempar koin menentukan pilihan makan siang, jika angka maka Wendys, jika burung garuda maka Solaria. Ketika koin yang ditangkap menunjukkan angka = Wendy's, dan pada saat itu, coba perhatikan jika muncul sekecil apapun keberatan dalam hati "arggh...malas juga" artinya sebenarnya dalam hati kecil kita, sudah tau bahwa kita tidak mau makan Wendys. Lempar koin sebenarnya bukan untuk memutuskan apa yang kita mau,  tapi memberitahukan kepada diri apa yang tidak mau kita ambil. Hal ini aku baca dari buku Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 oleh Ajahn Brahm. Dan contoh nyata dengan apa yang dialami suamiku. Ketika ada pertandingan bola, Chelsea Vs. Liverpool dan binggung harus membela yang mana, akhirnya bertanya ke aku, "yang mana ni?" jawabku "Pilih Lyly aja", trus dia bilang "ly...Liverpool dong". Seper sekian detik setelah dia berkata Liverpool, dia langsung memberikan respond "yah...."menunjukkan pada dasarnya kata hatinya tidak senang kalau memilih Liverpool namun dia tetap memilih itu, dan benar keesokan harinya yang menang Chelsea dan dia bilang "kemaren juga uda ga pengen Liverpool cuma karena semua temannya milih Chelsea, dia cuma pingin berbeda saja". "Cuma ingin berbeda saja" merupakan Kata Pikiran bukan Kata hati. 

Seringnya ketika kita menghadapi keraguan antara dua pilihan, kita tidak mendengarkan hati kecil kita karena terlalu sibuk mendengarkan Kata Pikiran dan pendapat/petimbangan dari orang lain, mencoba memikirkan segala resiko dan keuntungan yang akhirnya tetap membuat kita binggung mau milih yang mana dan akhirnya cari teman lagi, tanya lagi dan tetap masih binggung sampai akhirnya memutuskan karena sudah mepet dan berharap dengan cemas semoga keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik dan berharap kalaupun bukan, maka badai pasti berlalu. Memang tidak mudah mendengarkan hati kecil tapi cobalah untuk berhenti tidak melakukan apa-apa, tidak usah berpikir apa-apa dan nikmati saja hari kita seperti tidak terjadi apa-apa, maka pikiran akan lebih tenang dan kita kan mulai bisa mendengarkan hati kecil kita dengan lebih jelas.

Kata Hatiku "Ayo tidur, sudah malam, ngantuk" :). Good Night (23.58PM)


Saturday, May 19, 2012

"Do The Best & The Universe Will See It"

"Ngapain kerja keras sampai segitunya, perusahaan juga ga ngehargain apa yang kita kerjakan",
Kalimat diatas pasti pernah kita dengar atau mungkin pernah kita ucapkan sendiri. Banyak dari kita yang pernah merasakan kurangnya appresiasi perusahaan terhadap hasil kerja keras kita, ide kita dll. Hal ini pastinya lebih banyak dirasakan oleh karyawan sudah bekerja lama disatu posisi dalam satu perusahaan. Seringnya kita berpikir appresiasi dari perusahaan yang diharapkan adalah bentuk promosi, kenaikan gaji yang signifikan tapi tidak jarang appresiasi kecil dalam bentuk thank you gift/note secara personal atau pada saat Employee Gathering bisa menjadi hal yang sangat dibutuhkan karyawan untuk dapat merasa dihargai. Namun ketika semua itu tidak didapatkan oleh karyawan, maka kalimat pertama diatas akan sangat sering muncul dalam pembicaraan.

Adalah sangat manusiawi ketika merasa tidak diperhatikan oleh perusahaan, maka si karyawan akan bekerja seadanya saja karena persepsi pada umumnya adalah Penghargaan dari atasan atau perusahaan dalam bentuk apapun merupakan bentuk aktualisasi diri/pencapaian diri. Namun setelah dipikirkan lebih lanjut, aku melihat bahwa cara berpikir diatas akan menimbulkan tiga akibat :
1. Meyakinkan perusahaan bahwa kita memang tidak mampu memberikan nilai lebih bagi perusahaan
Ketika si "A" berpikir perusahaan tidak menghargai kerja kerasnya dan  memutuskan untuk menurunkan kinerja diri, maka secara otomatis manajemen akan melihat bahwa si "A" memiliki kinerja yang tidak konsisten dan cenderung menurun. Ketika muncul rekan kerja baru "B" dengan semangat baru, menyelesaikan semua tugasnya dengan penuh antusiasme, maka manajemen otomatis akan langsung membandingkan si "A" dan si "B" dan perusahaan akan memilih "B" untuk mendapatkan apresiasi lebih karena si "A" dengan pemikiran dan sikapnya, sebenarnya telah membuat perusahaan memiliki perbandingan kinerja yang memperlihatkan si "B" lebih potensial daripada si "A".

2. Merubah diri menjadi Toxic bagi organisasi dan diri sendiri
Jika si "A" terus-terusan berpikir seperti itu, maka setiap ada rekan kerja baru, si "A" akan semakin tersingkir dan akhirnya ketika semua rekan kerja sudah naik level, maka dia tertinggal dibawah sendiri. Dalam kondisi seperti ini, besar kemungkinan si "A" akan berubah menjadi "Racun" atau penyebar hal-hal negatif dalam perusahaan dan yang lebih berbahaya adalah Pemikiran-pemikiran negatifnya akan menyerang diri sendiri dan membuat si "A" Depresi. Ketika si "A" tertinggal dibawah sendirian, dia mulai berbicara tentang semua kekurangan perusahaan & mencoba mencari kekurangan orang lain untuk disebarkan berharap ada yang setuju dengan dia (mencari pembenaran diri). Namun hal ini tidak akan membantu pengembangan karirnya karena orang akan memandang si "A" menjadi orang yang sangat negatif & hanya sekedar lalu saja. si "A" perlahan tapi pasti membuat orang lain tidak menghargai dirinya. Tidak mendapatkan penghargaan dari perusahaan, mendapatkan pandangan negatif dari lingkungan kerja akan membuat dia menjadi depresi karena marah ataupun kehilangan kepercayaan akan kualitas diri yang pernah dia miliki. Dan pada akhirnya depresi tersebut akan membuat si "A" lumpuh secara mental dan pemikiran yang memastikan dia akan berada di status quo atau bahkan mengalami kemunduran.

3. Menghilangkan peluang lebih baik diluar perusahaan
Ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh menhadirkan hal-hal yang berbeda dan efektif dalam pengembangan organisasi, maka hal itu tidak akan hanya dirasakan oleh atasan atau manajemen, namun pihak lain/luar yang terkait dengan perusahaan maupun kita juga akan mampu melihat hal tersebut. Dan jika apa yang kita lakukan sangat luar biasa, maka tidak perlu takut/minder karena perusahaan tidak memberikan penghargaan atas apa yang kita lakukan karena akan selalu ada pihak luar (Vendor, customer, competitor, etc) yang akan memberikan appresiasi tersebut terhadap kita. Pembajakan karyawan dari perusahaan pesaing merupakan salah satu contoh yang sering terjadi untuk menunjukkan hal ini. Khususnya ketika kita bekerja dibagian yang lebih terexposure kedunia luar perusahaan seperti sales, marketing dll. Ketika seorang sales mampu meningkatkan bisnisnya disebuah area, otomatis dia akan mengecilkan bisnis pesaingnya, dan perusahaan pesaing pastinya akan mencari tahu apa penyebab dibalik kemunduran bisnisnya dan semua penyebab itu akan menunjuk kepada si sales yang memiliki kinerja, ide yang luar biasa. Perusahaan pesaing, akan dengan senang hati jika memiliki karyawan seperti itu, nah disitulah peluang lebih baik dari luar perusahaan akan muncul untuk kita.
Kalaupun kita bekerja dibagian yang tidak terexpose keluar perusahaan, maka akan ada rekan kerja kita yang dapat melihat kinerja kita dan ketika rekan kerja tersebut mendapat info peluang kerja yang lebih baik diperusahaan lain yang sesuai dengan bidang pekerjaan kita, maka kita akan berada di No. 1 daftar rekomendasinya, dan disitulah peluang muncul.

Peluang selalu ada dimana-mana dan terlihat oleh mereka yang memiliki kapasitas dan kemampuan diri, sehingga jika merasa perusahaan/manajemen/atasan tidak menghargai apa yang kita lakukan, putuskanlah untuk Do The Best & The Universe Will See It.

Tuesday, May 15, 2012

What Are You? I'm Milliuner, Genius, Playboy & Generous" ~Tony Stark, The Avengers

Captain America: "What Are You Without Your Suit?"
Tony Stark : "Im Millinuer, Genius, Playboy & generous"
Diatas adalah penggalan pembicaraan antara Captain America & Tony Stark di film The Avengers. Kalimat ini sangat menempel dikepalaku karena mengingatkan ku pada satu hal yang penting namun sering tidak dipedulikan (termaksud aku) yaitu "Siapa Aku?" yang akan membantu kita menciptakan "Personal Branding".

Aku coba membedah percakapan diatas dalam 2 bagian:
1. Ketika Captain America bertanya kepada Tony Stark mengenai diri dia tanpa menjadi Iron Man, jika dikaitkan dengan kehidupan nyata, pertanyaan tersebut sama dengan "Siapa aku tanpa jabatan dari sebuah perusahaan?" sama seperti contoh pembicaraan dibawah ketika kita menelepon seseorang yang sudah lama tidak kita hubungi :
"Hallo Ren, ini Billly, apa kabarnya?"
"Billly mana?"
"Masa Lupa, Billy Binus"
"Ohh, iya-iya, baik, gimana kabarmu?
ketika menyebutkan hanya nama, mungkin seseorang bisa tidak mengingat secara spesifik siapakah yang dimaksud sehingga mau tidak mau kita mengkaitkan nama kita dengan suatu institusi/tempat/kejadian dimana kita pernah berhubungan dengan orang lain. Pernahkah kita pikirkan, label (Brand) yang melekat di diri kita dalam pembicaraan telepon diatas? apakah kita puas dengan mengkaitkan nama kita dengan nama suatu institusi/tempat dll? Pernahkah kita menginginkan respond yang antusias dari lawan bicara ketika kita menyebutkan nama saja, seperti contoh pembicaraan berikut:
"Hallo Ren, ini Billy, apa kabarnya?"
"Hey, kemana aja? Masih sering ngajar anak-anak?, kemaren itu, pas nganterin keponakan ke sekolah, jadi ingat kamu yang kalau ngomong bisa bikin anak-anak ketawa "
Pembicaraan diatas, menunjukkan bahwa image si "Billy" diatas sangat melekat kepada si Renny, sehingga hanya dengan menyebutkan nama saja, lawan bicara sudah bisa membicarakan kita. Pertanyaannya : Billy mana yang kita inginkan untuk diri kita sendiri?

2. ""Im Millinuer, Genius, Playboy & generous", Kalimat Tony Stark yang diucapkan dengan cepat, tegas & lugas ini menunjukkan betapa dia sangat mengetahui siapa dirinya. Jika dalam kondisi Stark, apakah kita bisa menjawab dengan secepat & setegas dia dalam mendeskripsikan diri kita?. Berapa menit yang dibutuhkan untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan diatas? menurutku, jika kita membutuhkan lebih dari 1 menit untuk menjawab, berarti kita sendiri belum mengetahui siapa diri kita. Jika kita tidak mengenal diri sendiri, bagaimana kita mau membuat orang lain mengenal siapa kita?. Sejujurnya, aku sendiri belum bisa melakukan hal tersebut 100% karena memang aku belum pernah benar-benar serius memikirkan hal tersebut untuk diri sendiri( Personal Identity).

Sering kali kita baru berpikir tentang Siapakah Aku? ketika kita mau mengikuti suatu proses interview dalam bentuk pertanyaan "Tell Me About Yourself", pertanyaan ini sangat simple tapi sering kali menjadi hal yang bikin stress karena kurangnya kita mengenali diri sendiri, alhasil, jawaban yang diberikan tidak memunculkan keunggulan diri yang bernilai dan akhirnya kita dilihat sama dengan kandidat yang lain. Tidak kenalnya kita dengan diri sendiri, juga bisa membuat orang memiliki keraguan atau stress ketika ingin memutuskan untuk berhenti bekerja di sebuah perusahaan dan memulai bisnis sendiri karena Label/Jabatan yang diberikan perusahaan kepada seseorang telah dianggap sebagai indentitasi diri & aktualisasinya sehingga jika jabatan tersebut hilang, maka orang tersebut bisa merasa bahwa "Im Nobody Right Now", Apakah benar kita bukan siapa-siapa tanpa jabatan dari sebuah perusahaan? menurutku, tentu saja tidak, karena untuk sebuah perusahaan memberikan kita sebuah jabatan/posisi, mereka berarti melihat sesuatu nilai positif dalam diri yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan, namun memang sering kali terlalu sibuk dalam segala hal sehingga tidak sempat mempelajari lebih dalam mengenai diri sendiri.

Dengan mengenali diri sendiri, kita akan dengan mudah mengasah kemampuan kita menjadi seorang ahli karena seperti dalam tes bakat yang saat ini sering diikuti oleh anak-anak untuk bisa menjadi lebih ahli dalam bidang yang tepat karena sudah mengetahui dari awal apa yang harus dikembangkan. Dan ketika kita menjadi ahli/kuat dalam satu hal, maka hal itulah yang akan diingat orang lain tentang kita dan terciptalah personal branding yang memudahkan kita untuk dilihat secara berbeda(outstanding) dari kumpulan orang. Dengan Personal branding yang kuat, kesempatan akan lebih banyak tercipta untuk kita.

Ps: Membangun personal branding, baiknya dimulai dari internal diri dimana kita melihat hal-hal apa yang membuat kita nyaman & berguna buat kita terlebih dahulu, baru setelahnya kita mulai membangun image diri ke orang sekeliling kita. Mulailah dengan me-listdown hal-hal positif dari diri sendiri. Jangan karena ingin membangun personal branding, akhirnya kita terjebak dengan iamge-image yang diciptakan orang lain terhadap diri kita, hal ini sering terjadi khususnya dikalangan remaja yang demi dapat diterima dilingkugan sebuah kelompok, mereka berusaha menjadi seseorang orang diinginkan dalam kelompok itu yang banyak berakhir pada depresi dan ketidakbahagiaan.

Banyak literatur menarik ttgl personal branding di internet & buku, salah duanya seperti dibawah ini yang mampu menunjukkan hal paling dasar dalam memulai pembentukan personal branding
http://mashable.com/2009/02/05/personal-branding-101/
http://www.stevepavlina.com/blog/2008/02/personal-branding/

"What is Your Personal Branding? But before that, Do You Have Personal Identity?"

*image source: http://images4.wikia.nocookie.net/__cb20111225014445/marvelmovies/images/a/ac/TheAvengers_TonyStark_Poster.jpg