Showing posts with label Pembelajaran Untukku. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran Untukku. Show all posts

Sunday, May 11, 2014

Need Business Advice? Go To Your Children!

During food testing in my brother small restaurant, we brought all the “little humans” :D from my mom’s place. There are 5 of them, my little sister, my little cousin, 3 little nephew. The place is not so big, maybe like 5x10 m2 (Ruko Standard size), furnished with tables, chairs and all stuff needed to open a restaurant. These children are just so full of energy, they can’t sit or stand still. They just want to move and made the situation looked more crowded. After appointed one nephew to be the “boss” to monitor the others since he is the son of the restaurant owner, it lasted only for a while before the “boss” itself got distracted by games in smart phone. Haish…..

We were all there to taste the food and gave feedbacks for improvement. All adults there were busy giving comments and moving here and there. In order to lessen the frustration from too many feedbacks, my brother finally handed out paper and pen to us to write all the feedbacks. Knowing that the children felt restless because they can’t do anything, I gave the papers and pens to them, asked to write all the things that they think will make the restaurant a better place and able to attract more customers. And the surprises start here!. This is the first time in family, there is someone who start restaurant business, these children are rarely eat at big and exclusive restaurant, I bet they never watch Masterchef or any other cooking or restaurant show, their main activities are go to school, join extra language course, go to religious activities, join few drawing or coloring competition, but yet their feedbacks was so amazing for me.

They understand about Standard Operating Procedures, The Importance of customer voice, Branding and Promotion, How mood can affect customer buying behavior, Customer buying behavior. Some of their feedbacks weren’t commented by the adults. The adults focus only to the common things but the children point out so many amazing feedbacks as You can see below:
Standard operating procedures:
·  There should be a table number, bill or receipt, Menu list, Trash bin to keep cleanliness
·  We Should prepare bowl of water to wash hand (Kobokan)
· The waitress and staff should have uniforms, their hair should be tied up to prevent hair loss and fall to the food
· Waitress should be friendly, Every customer that come should be directly greet and ask for their order
· After the customer finish their meal and leave the place, staff should directly clean up the table

Customer Voice:
· Every customer should be given feedback form to find out what are their preferences and our weaknesses

Branding & promotion :
· Put restaurant name in eye catching place
· Create flyer / leaflet to be given to all people passing by or spread around

Design interior & Mood affecting buying behavior:
· Prepare small flower vase in each table
· Wall color should be lighter to increase people mood
· Put bigger painting so people can see
· Cooler air conditioning to make people comfortable
· Music through radio or others thing so people can enjoy        

Customer buying behavior :
· Not all customers will want to have big meal, sometimes they just want to have snack, so please prepare snack like cheese fried banana, cheese corn or salad
· Have drink alternative like bubble tea

These feedbacks amazed me, it sounds like Pro. Sometimes we never thought about discussing adult things with children to find solution because we just think that “they won’t know, they won’t understand, it’s not their time yet, this is too important or too big for them, or any other reason”. But is that really the truth?.

Children are one of the most creative human beings in the world. They don’t put themselves inside restrictions, they have high curiosity and rich in imagination. They able to see things clearly, they are mostly enjoying what they are doing, they are spontaneous, they are risk taker, they have great memory and great absorber. They don’t really care what others opinion (yet). If You ask this question in play group class, “are You creative?”, most of the children will say “yes”. But if You ask this question to adults, the best You probably get is only half of the adults say “yes”. If You let children explore their imagination about one thing, You will amaze of how many things they can found out from one thing. And as the fact show, human is getting smarter in each generation. Today’s children are smarter than ours and older generation when we were in the same age. When we were children, we are smarter than our parents when they were children, so do today’s children are smarter than all of us. Today’s world is changing and the best adaptor is today’s children. Older generation has higher resistant to adapt to Now. Our learning method in school is also different. Today’s kid is encouraged to analyze, older generation is encourage to memorize things in school.
 
With all the children greatness combined to our way of communication with them, I believe they will be a very good business consultant, or the worst case if their solution isn’t the best, I bet we all can enjoy their naïve and lovely reaction and energy that can lighten our burden. Happy Sunday and Enjoy Your time with Your kids or someone’s else kids J !.





Friday, January 10, 2014

Who Am I To Judge Lizzie Velasquez ?

Pagi-pagi bangun buka Fb ada link tentang Lizzie Velasquez. Pertama kali melihat wajah nya, pikiran yg muncul di kepala adl "aduh jelek banget ni orang". Jika menggunakan penilaian mengenai kecantikan pada umumnya, memang dia berhak mendapatkan gelar "The Ugliest Woman I've ever seen". Aku pun mencoba browsing foto-fotonya. Muncul foto dirinya dia bayi, anak-anak dan saat ini. Dengan matanya yang besar ditambah tulang wajah yang jelas terlihat sekali karena tidak ada lemak sedikitpun, memang dia terlihat jauh sekali dari kelucuan yang dimiliki anak-anak pada umumnya.

Link video tersebut pun aku klik dan wuaala ternyata dia jadi salah satu pembicara di Ted Talk Austin event. Melihat cara dia berjalan yang sepertinya butuh usaha lebih karena tubuhnya benar-benar bermakna denotasi adalah Kulit Pembungkus Tulang. Aku seperti melihat tengkorak berjalan.

Lizzie ternyata mengidap syndrome yang sampai saat ini belum bisa dipahami oleh dokter dan ilmuwan. Di dunia ini pun, hanya 2 org termaksud dirinya yg memiliki syndrome dimana menyebabkan dia tidak mampu membentuk otot dan menyimpan lemak sehingga dia menjadi manusia kulit pembungkus tulang, bukan karena pola makan yang salah seperti anorexia ataupun bulimia dll.


Syndrom ini juga menyebabkan dia hanya bisa melihat dengan mata sebelah kiri. Jika anak-anak dikasih liat fotonya, mungkin akan ada sebagian yang takut karena memang terlihat menakutkan dengan mata besar seperti melotot. Suatu hari karena kerjaan iseng seseorang yang memvideo kan dirinya selama 8 detik dan post di internet, akhirnya dia mendapat gelar The World Ugliest Woman dan mendapatkan komentar pedas seperti "please help the world, put a gun in your head & kill yourself". Setiap hari dia bangun dan berharap bahwa tubuhnya akan berubah menjadi normal, syndrome penyakitnya akan hilang dan setiap kali itu pula dia kecewa.


Saat kecil, dia dibesarkan oleh orang tua dengan penuh kasih dan diperlakukan seperti anak normal, sebelum semua pendapat luar terdengar olehnya, dia selalu berpikir dia adalah sama seperti lainnya sampai akhirnya ketika dia dikucilkan di sekolah. Apa tanggapan orang tuanya Lizzie? “Lizzie, yang membuatmu berbeda dibandingkan dengan anak-anak lainnya adalah kamu lebih kecil, kamu memiliki syndrome ini, dan hanya itu, tapi hal ini bukanlah hal yang akan “menentukan (define)” siapa dirimu, pergilah ke sekolah, angkat kepalamu dan tersenyumlah. Teruslah menjadi dirimu dan orang lain akan melihat bahwa kamu adalah sama dengan mereka”.

Ketika semua dunia menertawakan, jijik dan lainnya, dia memiliki support system yg setiap saat membantunya utk tersenyum dan tertawa. Dan itu yg membuat dia akhirnya menerima dirinya apa adanya dan mengatakan bahwa penyakitnya, penampilan fisiknya bukanlah hal yang menentukan siapa dirinya, tapi cita-cita dan kesuksesannyalah yang akan menentukan siapa dirinya.

Dia memiliki impian menjadi motivational speaker, penulis, lulus kuliah, berkeluarga dan berkarir. Dan diumurnya yang ke 25 saat ini, mimpinya menjadi speaker, penulis, lulus kuliah sudah tercapai. Berkarir sebagai pembicara merupakan perjalanan berkelanjutan. Berkeluarga? Saat ini memang belum menemukan pasangan. Tapi hey!, she just 25!.

Dengan kekurangan yang dimilikinya, dia menemukan cara untuk merubah semua itu menjadi hal positif. Ketika ada org yg mengejeknya, maka akan diletakkan disisi kanan tubuhnya maka, orang tersebut tidak akan pernah terlihat olehnya (Lizzie hanya bisa melihat dengan mata kiri). Dengan tubuh kulit pembalut tulangnya, dia bisa memakan apa saja yang dia inginkan tanpa khawatir overweight. Salah satu candaannya, dia senang sukarela datang ke gym center dan berkelakar "lihatlah kesuksesan dari program pelangsingan badan ini". Dsb.

Setelah melihat video ini, pertanyaan yang muncul adalah “Siapa aku utk menilai dan menghakimi dia sebagai wanita yang jelek ataupun hal lainnya?”. Penampilan fisiknya bukanlah sesuatu yang berada dalam kendali dia, namun dia tetap mampu membuat hidupnya bermakna dengan berbuat hal positif yang berada dalam kendalinya. Dan hal inilah yang bernilai.  

Seringnya baik sengaja maupun spontan, penilaian terhadap seseorang muncul hanya dengan melihat sekilas penampilan atau tindakan sesaat. Dan ketika penilaian itu muncul, langsung kita terima bulat-bulat seakan-akan kita benar 100% dan lebih baik dari orang lain. Tapi jika dipelajari lebih dalam lagi, jika kita melihat dari semua perspektif, mungkin semua penilaian awal kita adalah salah besar.

Aku bisa saja mengatakan Lizzie jelek, kulit pembungkus tulang ataupun lainnya tapi dia sudah berada di tangga menuju impiannya dan satu persatu impiannya di gapai dengan usaha luar biasa, sebentar lagi Lizzie akan mengeluarkan buku ketiganya, sedangkan saya yang normal secara fisik dan punya pikiran utk menulis buku saja sampai saat ini belum selesai menulis, so who am I to judge?.


"Tell me all that negative things, you know what, i will turn it around and use it as a ladder to climb up to my goals" Lizzie's Quotes




Saturday, January 4, 2014

WowTernyata Berbuat Baik Tidak Mudah

Mengutip sharing Dhamma kemarin mengenai Perbuatan Baik apakah selalu baik? Bagaimana cara mengukur bahwa perbuatan baik yg kita lakukan memang baik?.
Dalam ajaran Agama Buddha, pikiran & Kondisi Batin memegang peranan yg besar. Ketika pikiran tidak baik, maka kita sudah mulai menciptakan karma buruk untuk diri sendiri meskipun pikiran tersebut tidak turn into action. Sama seperti ketika tindakan terlihat benar dan baik adanya, namun ketika melakukannya muncul pikiran/kondisi batin  yg buruk, maka bisa jadi tercipta karma buruk yg lebih besar dari karma baiknya, jd kalau di matematis kan jadi minus dech.

Berikut adalah kondisi batin yg buruk yg harus dihindari ketika kita melakukan kebaikan:
1. Serakah
2. Kebencian
3. Kebodohan/Kegelapan Batin
4. Pandangan Salah
5. Kesombongan
6. Iri Hati
7. Egois
8. Cemas
9. Tidak Malu
10. Tidak Takut
11. Gelisah
12. Malas
13. Lembam /Tidak tangkas
14. Ragu-Ragu

Jika salah satu dr 14 kondisi batin diatas muncul dan sangat mendominasi selama kita melakukan kegiatan positif maka bisa saja karma buruk yg tercipta lebih besar drpd karma baiknya. Sehingga melatih pikiran dan batin untuk menjadi tulus dan Ikhlas dalam melakukan segala sesuatu menjadi sangat penting.
Sharing Dharma ini mengetuk kepalaku dan membuatku menganalisa kondisi batin ketika melakukan suatu tindakan yg menurutku baik. Seperti contoh ketika memberikan sumbangan, kadang muncul rasa ragu apakah sumbangan tersebut benar digunakan utk kebutuhan yg semestinya atau malah dikorupsi oleh panitia atau pengurusnya utk kepentingan pribadi.

Selain itu, banyak sekali kegiatan positif yg dilakukan jaman sekarang dengan tujuan pencitraan untuk mencapai suatu kepentingan. Pencitraan publik secara masal, lingkungan pekerjaan, rumah ataupun hanya sekedar untuk menarik perhatian seseorang. Apakah salah? Mungkin tidak, namun Karma baik yg diciptakan bisa jadi lebih sedikit dibandingkan dengan karma buruknya yg akan berbuah nantinya.
Ehm...berbuat baik aja susah y :). Tapi memang begitulah adanya.

ini adalah sharing dari pemahaman ku yang masih minim, untuk informasi yang lebih tepat, kunjungilah pusat-pusat pembelajaran agam Buddha atau berkonsultasilah dengan pengajar / guru-guru tapi tetap perlu diingat bahwa semua sharing janganlah ditelan mentah-mentah dan percaya 100% tapi lakukanlah eksplorasi lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya. Ehipassiko!

Thursday, September 5, 2013

Marah Bikin Tubuh Jadi Lebih Sehat ?


Pernahkah kita merasa MARAH yang benar-benar :
1. Marah sampai ke Ubun-ubun
2. Errrgghhh sampai pengen teriak tapi tidak bisa
3. Ingin berbalik memarahi tapi tidak bisa
4. Ingin Mengigit 1 buku tebal sampai robek
5. Bikin hati dan pikiran ingin "meledak"
6. Sampai suhu tubuh meningkat seperti ada api di sekeliling tubuh (imajinasi berlebih:D)
7. Sampai mau ngomong pun tidak bisa
8. Sampai muka merah, kepala panas
9. Ingin mengigit sampai puas
10. Kalau ada yg nyolek, mungkin  bisa kebakar
11. (silahkan ditambahkan sendiri reaksi Marah Banget teman2)

Jika Iya, apa yang harus atau yang sudah pernah dilakukan?

Marah memang suatu bentuk emosi yang dapat berdampak negatif pada mental dan tubuh karena menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh kita. Dikatakan ketika kita marah, maka sel kita dapat langsung berubah menjadi sel tubuh seperti orang berusia 80 tahun. Sebaliknya ketika tertawa, sel tubuh kita menjadi sel semuda sel tubuh ketika masih anak-anak.

Dua pengalaman pribadi sehubungan dengan Marah Berat yang sangat menarik bagiku adalah:
1. Sekitar Feb / Mar '12 dimana aku Marah Berat dan merasakan semua kondisi diatas akibat merasa diri mendapatkan perlakuan tidak adil & tidak masuk akal dalam pekerjaan. Rasa Marah yang sangat besar membuatku benar-benar blank sampai hati pikiran tidak tenang. Pas sekali pada saat itu, suami pun sedang keluar kota sehingga tidak ada tempat perluapan emosi. Apa yang harus kulakukan?
Setelah tinggal di lingkungan baru selama 6 bulanan, aku sama sekali belum pernah ke tempat ibadah dengan alasan belum tau tempatnya padahal selalu melihat banner acara tempat ibadah tersebut :D.
Dan dengan hati pikiran yangg super tidak tenang, muncullah pikiran "mungkin akan menjadi lebih tenang dan damai kalau ke tempat ibadah", akhirnya aku mendatangi tempat ibadah tersebut yang sebenarnya hanya beda satu komplek dari rumah ku (memang selama ini malas aja). Meskipun akhirnya hanya sampai pada tempat parkir dan pulang setelah melihat papan pengumuman, namun malam itu menjadi suatu permulaan yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan di hari minggu sampai sekarang (tentu saja ada bolongnya :D )

2. 25 Juli 2013 => Marah Berat diakibatkan oleh hal dalam pekerjaanku di area penjualan yang harus menghadapi semua tingkah laku pelanggan termaksud yang super menyebalkan. Kali ini, apa yg terjadi setelah Marah Berat tersebut? Sama seperti kejadian sebelumnya, suami juga sedang keluar rumah. (knp selalu nge-pas banget, suami tidak dirumah ketika aku Marah Berat? Seperti dia bisa sense something bad will happen kalau dia dirumah :p )
Karena tidak ada tempat utk curhat akhirnya pun aku memutuskan untuk menyalurkan semua emosi dan energi dari tubuh untuk menenangkan diri dengan cara naik turun tangga.
Dan mungkin karena tak pernah olah raga atau karena emosi tinggi sehingga menaiki tangga dengan ritme yang tidak tepat, akhirnya hanya 7x bolak balik saja, rasanya seperti mau pingsan dan tepar di lantai untuk catching my breath. Tubuh terasa lelah, namun hati dan pikiran pun menjadi tenang.
Kejadian ini, menyadarkan betapa lemahnya stamina tubuhku dan memacuku untuk lebih sering melakukan workout. Dan akhirnya sampai saat ini, aku menjadi lebih rutin ber"gerak" (olah raga ala kadarnya yg penting keringatan) +/- 30 menit hampir setiap hari. Dan pastinya, 30x naik turun tangga bukan masalah lg sekarang :p.

Dua kejadian Marah Berat diatas, tanpa terencana membuatku memiliki kebiasaan Positif yang baru dan mengajarkan ku apa yg dimaksud dengan "Channeling Anger". Kadang Marah tidak dapat kita hindari, namun kita punya kendali untuk mengatasi emosi tersebut dgn menggunakan energi dari emosi tersebut untuk melakukan sesuatu yang baik bagi diri namun selama ini selalu ditunda. Kenapa bisa seperti ini?  mungkin karena pada saat marah, kita benar-benar bertindak tanpa banyak berpikir, karena semua kemalasan yang biasanya menghalangi kita, tidak sempat mengirimkan sinyal ke otak karena terhalangi oleh emosi. 

Hal ini membuat Kondisi Marah Berat mungkin bisa kita jadikan Momentum utk diri melakukan hal baru yg positif. Namun, tetap saja menurutku, Tertawa dan Tersenyum dengan ikhlas adalah jauh lebih baik dari Marah terlepas dr positif habit yang terbentuk dari momentum tersebut.

Channeling My Anger
#1st101

Friday, March 22, 2013

Tidak Tahu atau Belum Berani?

Banyak karyawan yg memasuki masa dimana karyawan tersebut merasa bahwa dia sudah ada di level yg secara kemampuan sudah maksimal namun secara karier sudah terasa mentok, pada akhirnya berdampak pada hilangnya semangat bekerja dan melihat pekerjaan hanya sebagai rutinitas. Karyawan yg memasuki masa seperti ini, memiliki pemikiran untuk melakukan hal berbeda seperti berpindah ke perusahaan lain, membangun usaha sendiri maupun menambah kegiatan lain selain bekerja.
Bagi karyawan yg masih berada di usia muda, berpindah perusahaan merupakan hal yg lebih mudah dibandingkan yg lbh senior. Jika Karyawan dengan usia lbh senior yg sudah berada di middle management namun memiliki kesulitan naik ke jenjang yg lebih tinggi lagi, lebih memilih utk memulai usaha sendiri maka sering muncul keraguan. Keraguan untuk berhenti dari pekerjaan yg memberikan pendapatan  dan kebosanan tetap setiap bulannya karena alasan "saya belum tahu mau ngapain".
Nah disinilah pertanyaannya muncul, apakah benar kita "Tidak Tahu" apa yang mau kita lakukan atau sebenarnya kita "Belum Berani" mengambil resiko yg mungkin muncul ketika kita memulai suatu hal yang baru?. Jika memang kita sedang ada di posisi yg penuh keraguan ini dan berpikir kita tidak tahu apa yang mau dilakukan, cobalah untuk duduk rileks & pejamkan mata dan mulai bertanya pada diri sendiri. "Benarkah aku tidak tahu apa yang mau ku lakukan?".
Seorang teman akhir-akhir ini sedang memasuki masa "level of incompetence" & memutuskan untuk resign. Setelah surat diberikan, teman ini bukannya merasakan excitement baru ternyata malah mengalami kecemasan & kebinggungan tingkat tinggi yg berdampak pada kondisi fisiknya sampai suatu hari dia  berkata "Aku tidak tahu apa yg mau aku lakukan". Dalam setiap pembicaraan sebelum dia resign, dia sering menceritakan kalau nanti uda resign, dia mau mulai fokus pada kegiatan A, mulai investasi pada bidang B, dan jg mulai mencari-cari informasi di internet mengenai peluang usaha ini dan itu.
Dengan penuturan dia mengenai keinginan dan keraguannya, akhirnya muncul pertanyaan :
1. sebenarnya kamu ga tau apa yang mau kamu lakukan atau kamu ga berani mengambil resiko terhadap apa yg ingin kamu lakukan?
==>teman tersebut terdiam dan akhirnya menjawab "memang beresiko"
2. Tapi resikonya bisa diperhitungkan? Akan sebesar apa?
==> karena saat ini aku belum terjun k bisnis tersebut & banyak belum tahu makanya resikonya jadi lbh besar
3. Ada cara utk meminimalisir resiko tersebut?
==> tapi kalau ga terjun, terjun y ga akan tau sampai kapan pun
4. Mumpung masih ada waktu sampai sebelum resign, mungkin ada bbrp hal yg bisa dilakukan untuk meminimalisir resiko tersebut
***semua terdiam & mengangguk
Dari pembicaraan diatas, dapat kita lihat bahwa pikiran sering terjebak dalam membuat kesimpulan yg lebih mudah diterima diri kita, namun ketika kita gali lebih mendalam, kita akan menemukan jawaban yang sebenarnya kita sudah punya. Dengan jawaban tersebut, bukan berarti bahwa keraguan & resiko akan hilang secara langsung, namun kita mulai bisa menyusun langkah-langkah yg bisa dilakukan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Apakah setelah itu kita secara pasti akan berhasil? Belum tentu juga, tapi pastinya akan membuat kita mengambil langkah pertama untuk perjalanan yang menghidupkan kembali api semangat dalam diri.
Jadi apakah kita "Tidak  Tahu" atau "Belum Berani"?

Sunday, October 14, 2012

WowTernyata Kekuatan Pikiran Memang Dahsyat !!!


Tanggal 11 Sept '12 merupakan hari dimana aku mengucapkan Janji Antusiasme dan sebulan kemudian ketika direnungkan kembali, ternyata aku mulai merasakan banyak hal positif yang terjadi, menemukan tantangan baru, pembelajaran yang bertambah setiap harinya dan Kesabaran yang teruji :p. Namun yang paling penting, aku benar-benar mengalami apa yang kita namakan "Kekuatan Pikiran"

Pikiran merupakan salah satu kekuatan terbesar manusia yang membuat seorang mampu meraih hal terbaik dalam hidupnya maupun kebalikannya. Hal ini menyebabkan timbulnya banyak ungkapan seperti : Positive thinking, What You Think is What You Get. Ungkapan-ungkapan ini sering sekali diucapkan ketika kita mencoba menyemangati orang lain, dan seperti semua ungkapan positif, sangat mudah diungkapkan namun belum tentu dimengerti atau belum tentu juga si pendengar mau menerima makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut karena mungkin pada kondisi tertentu, ego dan perasaan kita lebih berpengaruh dibandingkan pikiran. 

Melalui tulisan ini, ijinkan aku berbagi cerita mengenai pengalaman yang benar-benar membuatku tersentak sadar mengenai betapa dahsyatnya kekuatan pikiran yang mempengaruhi kondisi lingkungan pekerjaan hanya dalam satu malam. Jika teman-teman pernah membaca beberapa tulisan yang bercerita mengenai awal kepindahanku ke perusahaan yang sekarang ini, maka teman-teman akan mengetahui betapa besar rasa kehilangan yang aku alami. Aku selalu mencoba berpikir bahwa "Yah mungkin belum sebulan, ntar juga bakal membaik", namun setelah 1 bulan, aku masih belum mendapatkan perasaan nyaman diperusahaan baru ini. Hal ini menyebabkan aku mencoba mencari peluang ditempat lain dan akhirnya sampailah satu hari dimana aku mendapatkan jadwal untuk psikotes dan interview dari dua perusahaan berbeda. Disinilah Cerita Kedahsyatan Pikiran berawal…… 

Dalam Psikotes yang sering dilakukan diperusahaan, selalu ada kegiatan dimana kita harus memilih salah satu dari beberapa pernyataan yang kita anggap paling sesuai dengan diri kita. Ketika terdapat pilihan xxx dan “Optimis”. Secara spontan aku langsung memilih kata Optimis(karena aku merasa selalu memiliki optimism tingkat tinggi), namun sesaat setelah melingkari pilihan tersebut, langsung muncul refleksi diri...."Eh, kayanya akhir-akhir ini aku sudah tidak optimis lagi, apakah pilihan ini masih valid?”. Pada saat itu, aku hanya punya 2 pilihan yaitu merevisi pilihanku dan kehilangan optimism dalam hidup atau tetap pada pilihanku dan mulai membangkitkan antusiasmeku lagi. Hal ini terus memenuhi pikiranku seharian.

Dalam proses interview di perusahaan berikutnya, setelah pembicaraan panjang lebar dikali tinggi J, akhirnya usernya pun mengatakan bahwa pada dasarnya dia merasa sudah cocok dengan ku baik dari sisi pengalaman maupun pengetahuan, namun dari sisi kompensasi & latar belakang pekerjaan yang ada diperusahaan PMA, kenapa masih berpikir untuk berpindah?. Komentarnya langsung membuatku tersentak untuk kedua kalinya dalam 1 hari. Kata-kata tersebut langsung membuatku benar-benar berpikir kembali mengenai semua keluh kesahku di perusahaan baru. Meskipun aku merasa selalu sadar & bicara pada diriku bahwa apa yang aku dapatkan adalah sudah sesuai keinginanku, namun kenapa selama ini aku tidak menghargainy dan malah sibuk membandingkan perusahaan baru dengan yang lama. Kenapa aku begitu merasa tidak bisa nyaman ditempat yang baru dengan semua benefit yang lebih baik? Padahal Aku seharusnya bisa dengan penuh senyum dan bahagia melakukan dan menikmati apa yang aku miliki sekarang.

Akhirnya dalam perjalanan pulang kerumah akupun langsung MEMUTUSKAN bahwa “Aku akan selalu berantusias dalam keseharianku & menikmati apa yang aku miliki saat ini, dan kalaupun belum bisa, maka aku harus mampu berpura-pura berantusias untuk melakukan perkerjaanku”. Kenapa berpura-pura dapat membantu mempengaruhi mood seseorang seperti pada tulisanku sebelumnya. Setelah keputusan tersebut dibuat dengan mantaaab!, maka keesokan harinya, aku bangun pagi dengan memasang wajah tersenyum dan mengucapkan Janji Antusiasme ku. Dan disinilah kekuatan pikiran bekerja dan memunculkan apa yang sebagian orang katakan sebagai “keajaiban”. Satu persatu kejadian positif mulai terjadi. Program yang sebelumnya aku ajukan selalu dipending dengan berbagai alasan, tiba-tiba pada hari tersebut langsung diberikan persetujuan tanpa perlu perdebatan panjang & menyebalkan seperti yang sebelumnya dilakukan. Hal ini langsung membuatku berpikir “eh…..koq bisa?, jangan-jangan lagi salah makan obat orangnya…wkwkwk ”. Hari kedua setelah Janji Antusias diucapkan, senyuman dan keramahan juga didapatkan dari seorang rekan kerja yang sehari-hari rasanya tidak pernah tersenyum, berwajah datar & pemikir. Hal ini juga membuatku “eh…..koq bisa?”. Kedua kejadian diatas merupakan awal semua hal positif yang menghampiriku setelah Janji Antusiasme diucapkan. Dan setiap harinya, aku mulai mampu menapak dengan lebih baik dan mulai terlihat tantangan baru untuk dijalankan dan masalah baru yang akan memberikan pembelajaran untuk diri.
Pengalaman diatas benar-benar menyadarkanku bagaimana hanya dengan membalikkan cara berpikir dan pandangan kita terhadap satu hal, maka semua hal yang kita rasakan juga akan berbalik. What “So-Called” Miracle Do Happens When We Change Our Perspective. Selain Kedahsyatan pikiran, kasus dengan niat mencari peluang diperusahaan lain meskipun baru berpindah satu bulan, akhirnya membuatku menyadari bahwa “melakukan hal yang salah, tidaklah selalu salah namun bisa membuat kita melihat hal yang baik dengan lebih jelas”.

  
  

Wednesday, September 26, 2012

Akhirnya Mengerti Makna "明天会更好"

明天会更好 - Ming Tian Hui Geng Hao merupakan frase/kalimat dalam bahasa mandarin yg sudah sering dijadikan sebagai ungkapan pemberi semangat yang secara harafiah berarti "esok hari akan lebih baik". Kalimat ini juga merupakan sebuah judul lagu karaoke yg sangat terkenal ketika aku masih menduduki bangku SD di Medan. Selama ini pengertian ku terhadap arti kalimat ini memang tidak salah, namun hari ini aku menyadari bahwa kalimat ini mengandung makna yg lebih mendalam drpd hanya sekedar "esok hari akan lebih baik".

Makna yg lebih dalam ini aku pahami ketika mendengarkan sharing Dharma oleh Dr. R. Surya Widya, SpKJ ketika beliau membimbing kita dalam latihan meditasi dan memberikan pemahaman awal yg berisi kalimat lbh kurang dibawah ini "kita harus bisa menyadari hal-hal/sikap negatif kita dan menguranginya serta menambah hal-hal positif dalam diri & hidup kita setiap hari maka kita akan menjadi lebih baik setiap hari ".

Ucapan ini membuatku langsung teringat pada frase "明天会更好 - Ming Tian Hui Geng Hao" dan langsung menyadari bahwa makna yg terkandung dlm kalimat ini penuh kebenaran mutlak karena Esok Pasti Akan Lebih Baik ketika kita setiap hari berusaha mengurangi pikiran, sifat & sikap negatif dan selalu menambah Pikiran, sifat& sikap positif yang akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Jika dikaitkan kedalam kesuksesan duniawi, sudah tentu orang positif selalu menarik hal-hal baik(kesempatan) dilingkungan mendekati dirinya dan orang juga akan selalu lebih senang berbisnis & bekerja dengan orang yg Positif, lebih baik & lebih bijak & lebih pintar.
Jika dikaitkan dengan kesuksesan spiritual, maka semakin banyak hal baik yg kita lakukan maka karma baik juga akan semakin banyak yg akan berbuah dan membawa hal baik dalam hidup kita saat ini dan nantinya.

Setelah 20 tahun, aku baru tersadarkan utk makna yg lebih mendalam mengenai frase ini padahal aku sering kali mengucapkan kalimat ini dalam pembicaraan formal maupun non formal:D. Akhirnya mengerti juga.....
~~~~明天会更好~~~~

Wednesday, August 22, 2012

Aku Adalah Pribadi Yang Tidak Bertoleransi

Sore ini, 7 Agustus, ketika dalam perjalanan ke area Mangga Dua, Jakarta, seperti biasa perjalanan sangat padat dan ruwet. Yang kanan mau ke kiri, yang kiri mau ke kanan. Dan keruwetan jalanan tersebut secara tidak sadar membuatku menjadi pribadi yg tidak bertoleransi. Hal ini kusadari ketika seorang ibu yg menyebrang jalan diantara barisan mobil yang kacau. Sejujurnya aku tidak mengingat persis apakah aku melihat ibu tersebut ingin menyebrang melewati depan mobilku atau tidak, pokoknya aku mulai menginjak rem dan maju pelan mengikuti pergerakan mobil didepanku. Namun hal tersebut otomatis menghalangi jalan ibu tersebut dan sepertinya dia sedikit kesal. Ketika melihat wajahnya aku langsung tersadar bahwa "hey..kenapa aku harus berebutan jalan dengan ibu tersebut?apa ruginya kasih dia lewat bentar?toh kalau dia ga lewatpun aku juga ga akan bisa bergerak lbh dr 1 meter" dan aku langsung tersadar bahwa aku mulai menjadi pribadi yg intolerance dijalanan bahkan kepada pejalan kaki yg harusnya kita utamakan seperti dahulu ketika aku mengunjungi New Zealand. Pengalaman di NZ membuatku terpana ketika kita mau menyebrang jalan dengan berdiri disamping trotoar maka mobil akan berhenti dan melambai utk meminta kita lewat terlebih dahulu. Rasanya indah sekali melihat toleransi dan apresiasi mereka terhadap pejalan kaki, namun ternyata aku belum bisa meneruskan apresiasi tersebut kepada pejalan kaki lainnya di Indonesia. So I've done  a very bad thing.

Di sisi lain, ketika sudah muncul pemikiran bahwa aku intolerance, muncul jg pemikiran lain mengenai etika pengguna jalan dan fasilitas umum. Tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak manapun namun sering kali ketika kita menjadi pejalan kaki ataupun pengendara motor, kita sering kehilangan etika dan berpikir kita bisa lbh leluasa dalam menyalip, menyebrang dll. Banyak pejalan kaki yg seharusnya berjalan di sebelah kiri malah berjalan di tengah ataupun sebelah kanan. Seharusnya menyebrang menggunakan jembatan layang, malah nyebrang sembarangan dan tidak jarang menimbulkan kemacetan diperempatan jalan seperti yg terjadi di perempatan lampu merah Grogol. Kemacetan didaerah tersebut setalah aku perhatikan selain disebabkan krn banyak angkot yg berhenti mengambil penumpang, semua pejalan kaki menyebrang tanpa menggunakan jembatan penyebrangan dan lebih parah lagi mereka menyebrang ketika belum saatnya. Ketika mereka harusnya diam dan menunggu lampu hijau utk arus mereka, mereka malah langsung nyebrang dan mengakibatkan kendaraan dari arus lain terhalang dan otomatis itu membuat semua antrian mobil dibelakang tersendat.

Kadang aku suka melontarkan lelucon bahwa orang Indonesia memiliki jurus telapak tangan menghentikan mobil. Kita hanya perlu menunjukkan telapak tangan kita maka mobil akan berhenti, namun sayangnya kita terlalu sering menggunakan jurus tersebut sehingga merugikan pihak lain. Mengingat hal ini, aku rasa sudah saatnya Polantas menegakkan peraturan, hukum dan sanksi Tegas dan Jelas bagi pejalan kaki seperti yg aku rasakan ketika tidak sengaja menyebrang jalan bukan di zebra cross pas mengunjungi Singapore, langsung petugasnya menyuruhku kembali ke sebrang jalan dan menyebrang kembali menggunakan Zebra Cross. Sanksi yg sangat ringan namun sangat melekat sekali bahkan setelah 6 tahun.

However, drpd menunggu peraturan dr pemerintah yg ga tau kapan adanya, ijinkan aku mengajak teman2 memulai dr diri sendiri dengan menjadi pejalan kaki, pengedara motor &  mobil yg beretika dan bertoleransi dan saling mengingatkan org terdekat kita.

Akhirnya aku mengerti "Mengalah untuk Menang"

Beberapa kali seorang teman @tengkudita menceritakan filosofi bagaimana membina hubungan keluarga tepatnya dengan sang suami yg memiliki budaya yang bertolak belakang dan filosofi tsb  adalah "Mengalah Untuk Menang". Istilah ini memang aku pahami ketika berada di dunia kerja, namun memasuki kehidupan berumah tangga, sejujurnya dalam hati aku tidak setuju krn menurutku hubungan suami istri seharusnya sama tinggi sama rendah, tidak ada yg saling mendominasi karena harus sama-sama sejajar.

Namun kegiatan di libur lebaran tahun ini akhirnya membuatku menyetujui filosofi tsb. Sehari sebelum libur panjang, aku sudah mulai merencanakan utk setiap hari harus diisi dgn bangun pagi dan jogging utk menikmati kesunyian komplek perumahan bersama suami. Namun rencana gagal di hr pertama tgl 17 aug krn suami malas bangun. Tgl 18 aug, krn merasa tidak enak telah melanggar janji, suami pun bangun dengan terpaksa & menemani kegiatan bersepeda. Kegiatan bersepeda juga  yg juga akhirnya sekalian mengajak keponakan suami yg tinggal berdekatan. Di akhir kegiatan, sang suami pun mengakui menikmatinya dan langsung mengajak keponakannya untuk bersepeda lagi keesokan harinya. Esok hari dan lusa, sang suami selalu bangun dgn semangat dan terkesan sedikit memburuku utk bersepeda. Sikap dia yg sangat berbeda dr hari pertama membuatku berpikir bahwa semangatnya muncul hanya krn ingin bersepeda dgn keponakannya bukan dengan ku (terlepas dr benar tidakny pemikiran tsb). Dalam hati muncul rasa sebal dan cemburu. Aku ingin sekali melontarkan pertanyaan konfirmasi dan menuduh ke dia mengenai pemikiranku meskipun akhirnya aku berhasil utk tidak menanyakan hal tersebut. Aku memutuskan utk mencoba berpikir positif dan mengalah meredam egoku dgn pemikiran "plg tidak bisa sepedaan tiap pagi, anyhow tujuan awalku tercapai dan mungkin ini kesempatan yg baik utk membina hubungan dgn keponakannya".

Kegiatan bersepeda selama 3 hari yg diawali dengan rasa sebal, akhirnya bisa kukatakan memberikan hal baik diakhir dalam bentu kedekatan hubungan antara aku dengan keponakannya mulai terbangun. Kami menjadi memiliki keterikatan sehingga bisa mulai bermain dan bercanda bersama untuk 2 hari liburan yg tersisa dan suami jg merasakan hal yg menyenangkan dr kegiatan tersebut. Dan seperti biasa, seorg yg bahagia selalu akan membuat org disekitarnya juga menjadi bahagia. Dan inilah yg akhirnya membuatku memahami perkataan temanku Mengalah Untuk Menang. Aku mencoba mengalah dan meredam ego serta pemikiranku dan akhirnya aku mendapat 2 hal yg lebih baik lagi ditambah terlaksananya semua rencana liburanku (Arti Kemenangan ku). Ga rugi malah dapat bonus besar.

Seandainya pagi tersebut aku mulai menanyakan "koq tumben si kamu semangat bgt, kmrn malas2an?. Jangan2 kamu mau sepedaan krn mau brg keponakanmu?" maka reaksi yg mungkin muncul adalah "kalau gitu ga usa sepedaan dech, aku tidur aja. Nemenin salah ga nemenin jg ribut". Dan dapat ditebak, aku akan menghabiskan 4 hari liburanku dgn saling diam2an dan hubunganku dgn keponakannya juga tidak akan terbangun. Beruntung sekali pada pagi tersebut aku bisa menahan utk tidak melontarkan pertanyaan tersebut, sebaliknya aku mencoba menggunakan sedikit logika utk berpikir dan mengalah dgn meredam egoku.

Hidup "Mengalah Untuk Menang" !!!!

Saturday, August 4, 2012

Spion Mobil Yang Indah

Tgl 2/8, kamis lalu ketika dalam perjalanan ke kantor dipagi hari, seperti biasa ketika memasuki tol Jorr arah pondok indah, maka akan disambut dengan ratusan mobil yg berbaris dan bergerak sangat pelan sekali. Biasanya aku akan langsung memberi sen dan berusaha memotong ke lajur paling kanan karena pintu keluar tol ku masih di ujung sekali. Sambil bergerak pelan biasanya aku jg sibuk melihat gadget untuk menghilangkan kebosanan yg ada. Namun hari itu karena perasaan lagi malas, gelisah dan gundah gulana, aku pun tidak buru-buru mengambil lajur kanan. Aku mengikuti lajurku dan tidak sengaja melihat kaca spion kanan yang sekejap langsung membuatku terpana. Kupandangi lagi kaca spion kananku dan melihat pantulan langit biru dibelakangku. Langit biru cerah dengan celah yang dilewati oleh sinar mentari. Sinar tersebut seperti membelah awan utk masuk dan menyinari kita supaya kita tetap dapat menjalankan kegiatan kita. Sinar tersebut membentuk bidang lurus seperti milky way(tapi bukan dr kumpulan bintang), menjadi seperti jalan pengharapan dan doa kita. Pemandangan langit biru dengan sinar matahari yang menembus celah-celah tersebut mampu membuat perasaan yg tidak bersemangat menjadi penuh dengan pengharapan, kehangatan dan senyum yang akhirnya membuat hari-ku menjadi lebih bersinar.

Pengalaman ini membuatku teringat pada satu filosofi hidup berhubungan dengan mobil yakni "Kenapa spion mobil dibuat lbh kecil dibandingkan dengan kaca depan mobil?". Jawabannya karena dalam hidup kita, lebih penting untuk menatap kedepan dibandingkan kebelakang. Masa depan merupakan hal yg dapat kita bentuk(tidak terlepas dr faktor external diluar dr kendali) sedangkan masa lalu sudah tidak bisa kita rubah lagi, maka janganlah terjebak di masa lalu. Namun pengalaman hari ini juga mengajarkan bahwa memang benar masa lalu sudah tidak bisa dirubah, sudah tidak bisa diulangi lagi, namun masa lalu yang menyimpan banyak hal baik ataupun buruk seperti kenangan, pembelajaran, pencapaian,ketidakberhasilan, dll, bisa kita jadikan panduan untuk bergerak maju kedepan seperti ketika kita harus berpindah jalur pada saat mengemudi, maka kita perlu menggunakan spion melihat ke belakang. Masa lalu juga bisa menjadi motivasi dan penyemangat ketika kita merasa sedih dll di saat ini dengan melihat kembali kenangan baik dan pencapaian yang pernah kita miliki, seperti pemandangan kaca spion kamis lalu yg menyemangatiku.

Ketika merasa gagal, maka pikirkanlah pencapaian yang sudah pernah kita dapatkan dan hal tersebut akan membuat kita berpikir Jika dahulu kita bisa, maka sekarang kita jg pasti bisa krn kita hanya perlu menemukan caranya. Jika kita sedang kehilangan (sedih) maka pikirkanlah tentang hal-hal yg pernah kita peroleh dimasa lalu. Begitu banyak hal yg sdh kita peroleh, maka kehilangan satu hal bukanlah akhir dr segalanya namun bisa menjadi awal dari perolehan hal yang lebih baik. Oleh sebab itu, janganlah membuang masa lalu namun simpanlah hal baik yang bisa kita gunakan sbg kekuatan di masa sekarang dan masa yg akan datang.

Past is to Teach Not to Trap. Make sure we have our rearview mirror ready so accident will be minimized when we need to take decision to move forward.


Wednesday, April 18, 2012

WowTernyata "Mendengarkan Mungkin Adalah Pekerjaan Tersulit Seorang Atasan"

Karena kemarin nonton DVD Seri sampai kemalaman tapi harus bangun pagi karena ada meeting "penting" hari ini, alhasil rasanya ngantuk pisan di kantor. Meetingnya dibuat bergilir & kebetulan grup kita mendapatkan giliran terakhir yang harusnya jam 1 siang tapi molor jadi jam 3. 
Pas giliran group kita, atasanku langsung memulai presentasinya yang panjang ke Atasan yang lebih tinggi lagi (Level International). Presentasi berisi berbagai macam informasi baik financial maupun tidak. Presentasi  dilanjutkan oleh rekan ku & akhirnya aku. Alhasil kita memakan waktu 2 jam untuk presentasi dgn diskusi/feedback cuma +/- 10 menit. Selesai presentasi itu, rasanya sudah cukup lelah, namun itu belum selesai karena sekarang giliran Atasan dr International region melakukan presentasi setelah mendengarkan presentasi dari 3 group. OMG....aku secara personal rasanya sudah sangat lelah karena kurang tidur, Suhu udara yang terlalu dingin & sudah jam 6.30.....oh tidak. Rasanya sudah sangat tidak nyaman, konsentrasi pun sudah buyar. 

Ketika muncul slide "Thank You", hati rasanya senang sekali pengen langsung berdiri & meninggalkan ruangan. Dalam perjalanan pulang kerumah, aku kepikiran betapa tidak nyamannya aku mendengarkan presentasi seseorang dalam durasi 1.5 jam, dan setelah itu aku langsung kepikiran bagaimana dengan atasan dr International region tersebut? dia duduk & mendengarkan presentasi dari 3 group Total 8 jam. Aku yang duduk 1.5 jam saja sudah "konslet" kepalanya, apalagi dengan beliau yang harus dengerin presentasi 8 jam. Bagaimana dia mempertahankan konsentrasinya? bagaimana dia mengalahkan kebosanannya?. Kalau aku mengeluh Meetingnya bosan banget, bagaimana dengan beliau yang harus mendengarkan semua orang ngomong? WowTernyata Mendengarkan mungkin adalah salah satu pekerjaan tersulit bagi seorang atasan ketika harus mendengarkan presentasi laporan yang banyak detailnya. Bagaimana menurutmu?

http://www.savagechickens.com/images/chickensleepdisorder.jpg
Kalau pikirannya dilanjutkan lagi, kenapa Mendegarkan presentasi pada saat meeting bisa sangat membosankan? mungkin karena secara alami manusia memang memiliki sistem penyaringan informasi  otomatis yang akan memberi perhatian lebih kepada hal yang dianggap menarik. Namun ketika tidak menarik, maka otak kita secara otomatis berpaling ke hal lain atau langsung menutup diri tidak memproses informasi sama sekali & itulah awal dari muncullah kebosanan. Dan seringnya meeting dilakukan dalam bentuk forum dengan jumlah peserta bisa lebih dari 10 orang dari berbagai pihak dengan tujuan untuk bisa berkordinasi dengan baik antar group. Namun semakin besar peserta meeting maka semakin sulit untuk mempertahankan konsentrasi 100% semua peserta.

Jadi bagaimana caranya membuat meeting rutin menjadi menyenangkan? Stop buat meeting yang penuh dengan presentasi  yang cuma presentasi saja yang hanya untuk menginformasikan saja (reporting), karena reporting bisa dilakukan melalui email & dokumen print yang bisa dibaca sendiri. Meeting Formal dengan jumlah yang Besar memang tetap harus diadakan untuk update seperti Yearly Meeting atau maksimal Quarterly Meeting tapi ketika dilakukan terlalu sering, maka akan membuat semua orang malas datang ke meeting. No Wonder anggota DPR banyak yang tidur kalau lagi meeting :). 

Mari Mulailah dengan Meeting yang efektif yang penuh dengan diskusi & brainstorming hanya dengan bagian yang memang terkait secara langsung (jumlah optimum). Mulailah dengan coretan dikertas, gunakan kembali papan tulis.. Stop Doing Formal & Polite Presentation, Lets Start "Creating Solution" Fun Meeting.