Showing posts with label Berpikir dan Bersikap. Show all posts
Showing posts with label Berpikir dan Bersikap. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

Bapak Tua dan Gerobaknya

Pernahkah kita merasa tidak ikhlas/curiga/sebal ketika kita memberikan sedekah kepada orang lain yg meminta secara langsung kepada kita? Jika jawabannya "Iya", pertanyaan berikutnya adalah "kenapa?". Kenapa ketika sudah memberi, hati masih tidak ikhlas?.

Ketidak-ikhlasan tersebut baru saja kualami lagi kemarin dimana seorang Bapak tua yg aku asumsikan sebagai tukang loak/gerobak aku berikan/minta ambil barang-barang bekas bongkaran dari gudang. Setelah semua barang dimasukkan ke gerobak, aku siap-siap mengantar Bapak tua tersebut kedepan rumah namun tiba-tiba bapak tua bertanya "ngga ada uang rokok?", "Ha?kan bapak uda ambil barang-barang ini", jawabku spontan. Dalam hati berpikir 'seharusnya kan Bapak tersebut sudah mendapat keuntungan ketika nanti barang-barang bekas tersebut dijual, koq masih minta uang rokok?'. Karena Bapak tersebut masih bertanya, akhirnya akupun memberikan ala kadarnya dengan perasaan kecewa. Setelah itu, tanpa pikir lama, aku pun langsung ngadu dan komplain ke teman dan suami.

kejadian ini juga mengingatkan ku pada kejadian jaman dulu dimana ketika aku sampai di depan rumah, tiba-tiba ada motor berhenti disampingku dan minta sedekah untuk beli susu anaknya. Pada saat itu, aku masih ingat sekali di dompetku tersisa 2 lembar, 1 = 10rb, satu lagi 50rb. Coba tebak yg mana yg aku kasih?. Dalam hati merasa tdk ingin tertipu, tapi ada sedikit rasa tidak tega akhirnya pun aku memberikan uang 10rb ku. Dan pas masuk rumah, langsung saja aku ngoceh ke orang rumah.

Setelah mengoceh, terlintas dipikiran kenapa aku tidak memberikan 50rb saja y? kalau memang dia mau nipu ataupun memang benar2 butuh, sebenarnya dia bisa minta ama siapa saja yg ada dijalan, kenapa bisa pas sekali dia harus meminta ke aku? mungkin memang seharusnya itu adalah kesempatan ku utk berlatih Memberi.

Sama seperti dengan Bapak Tua kemarin, setelah mengocehpun akhirnya terlintas di pikiran, kenapa harus mengoceh dan tidak ikhlas?. Saat memberi adl saat aku memupuk karma baik, tapi dengan aku mengoceh, alhasil bukan hal baik yg dipupuk, malah hal yg tidak baik :'(.

Meskipun aku percaya bahwa memberi adalah hal yg baik, namun memang perlu untuk selalu mengingatkan diri belajar memberi dengan Ikhlas. Gambatte!!!.
~Menerima = Mengambil sisa~
~Memberi = Mendapat yg Baru~

Tuesday, April 30, 2013

Business Compassion & Human Being

All of us are a simple human being apart from our social, profesional and family status. As a simple human being, we do have feeling and thought. We can feel hurt, we can feel sad, disappoinment, joy and happiness.
Apart from all of our status,we are on the same hierarchy. We are born as creature who prefer love and piece than hate and war. But then we also have needs n wants that through the century of human way of living, has make us as Super Ego Human Being.
We strive and do the best to get what we want. We gain our status. And with the benefit of the status, we are forgetting the basic thing : Simple Human being.
In Business environment, with our title and company level, oftenly when we are corrupted with syndrom power, stress, angry, etc, we'll take decision without considering each party as simple human being. The decision is taken under for-the-sake-of-the-company statement. But when we  ask deeper to ownself, is that really for the sake of the company?or is it mostly based on our super ego to show our power or our ability?is the decision really will give each party postive impact?
When the decision is made under the business circumstances, i thought is always very valid to always consider about the sake of other party as simple human being. Beside for the sake of the company or camouflage of for-the-sake-of-the-company portion. Lets consider the impact to the people that are represent other party or other company which is dealing with our company because like in the beginning, we are all a simple human being in the same hierarchy apart from the Status.
When we are able to consider it, thats what i think as business compassion. Business compassion is not about being easy on every request, say yes to all the things without profit and loss consideration but when we say yes or no, its all for the sake of all party involved whether as an organization or individually.
This scramble morning thought is out after a very ugly situation that i also fail to practice business compassion because of desperation to point out I-told-you-so impact after the failure to change one ugly decision. My Ego is winning the battle of compassion and in a very short time, i do hurt other simple human beings.  Its all done and sorry may not solve rewind the history. Is just that, from now on, will i react with business compassion wisdom or react with corrupted mind?

Monday, March 18, 2013

Filosofi dibalik kata "做生意" dan "Business"

"做生意 (Zuò shēngyì)" dan "Business" memiliki kesamaan makna yaitu "berbisnis", namun memiliki filosofi mendasar yang berbeda terletak pada bagaimana seseorang menjalankan bisnis dalam kehidupan mereka. 


做生意 (Zuò shēngyì) memiliki arti harafiah yaitu "做-Zuò" : Make, "生-shēng": Life, "意-" : Desire, yang dapat dimaknai menjadi "melakukan sesuatu hal untuk bertahan hidup". Kata ini menunjukkan bahwa asal muasal manusia berbisnis adalah semata-mata untuk mampu bertahan hidup. seseorang dapat bertahan hidup apabila kebutuhan pokoknya terpenuhi, dimana dijaman sekarang ini tidak hanya Sandang, pangan dan papan, namun juga pendidikan dan mobilitas. Dan ketika kebutuhannya sudah tercapai maka penganut filosofi ini akan dapat meluangkan waktu untuk melakukan kesenangannya dan menikmati hari-hari mereka dengan lebih santai.



Business memiliki awalan kata "busy": Sibuk, dan diberikan imbuhan "ness" menjadi kesibukan. Kata ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berbisnis lebih berlandaskan pada membuat dirinya Sibuk. Hidup terasa lebih bermakna ketika memiliki jadwal kerja yang padat dan mayoritas waktu tercurahkan pada Business tanpa mau kehilangan kesempatan sedikitpun. Filosofi "Business" ini banyak sekali dianut oleh pebisnis-pebisnis yang ada saat ini, dimana pelaku bisnis mendedikasikan hampir semua waktu mereka untuk menjalankan bisnis.

2 Filosofi diatas diceritakan oleh salah satu pemilik perusahaan distribusi sehubungan dengan cara dia memperlakukan karyawan dan menjalankan bisnisnya. “Dalam setahun, aku bisa libur 3 bulan untuk menikmati  hari-hari ku dengan menyelam” ungkap beliau dan kalimat ini langsung membuatku terngangga dan memikirkan “wuau…what a life you have”. Menurut dia, hal ini dapat dilakukan semua orang jika mereka menganut filosofi "做生意 (Zuò shēngyì)". Namun karena kebanyakan dari kita sudah terdoktrin dengan pengajaran yang berlandaskan pada filosofi "Business", ditambah dengan Nilai "kompetisi" dan "konsumtif", maka tidak banyak pebisnis yang benar-benar dapat melakukan hobi/kesenangan mereka dengan alasan "Tidak Punya Waktu".
Pada umumnya, seorang pengusaha yang menganut filosofi "Business" selalu ingin bisnisnya berkembang setiap tahunnya dengan menumbuhkan penjualan perusahaan dan mendapatkan pelanggan sebanyak mungkin. Dan sering sekali banyak dari para pengusaha bekerja 24/7 (seperti jam operasional Seven Eleven) untuk memastikan tidak ada opportunity yang terlewatkan (Kompetisi). Kebutuhan kita setiap saat semakin bertambah besar (Konsumtif), contohnya: Launching Galaxy SIV / BBZ10, Iphone 5, maka kita langsung ikutan ganti Handphone meskipun mungkin fitur yang kita  gunakan adalah sama, tapi kita rela mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan gadget terbaru. Hal ini membuat kita membutuhkan pendapatan yang lebih besar untuk menunjang Pengeluaran yang bertambah besar. 
Namun jika pertumbuhan pendapatan = pertumbuhan pengeluaran, maka pada akhirnya kekayaan kita akan tetap sama, yang bertambah adalah waktu, tenaga dan pikiran yang kita curahkan pada Business untuk memastikan kita bisa mendapatkan income yang lebih besar. 

Masing-masing kita bebas memilih filosofi mana yang menurut kita lebih sesuai karena pada akhirnya yang menjalankan dan menikmati adalah diri kita masing-masing. So, apa pilihan mu "做生意 (Zuò shēngyì)" atau "Business"





Monday, January 7, 2013

Apa Yang Menjadi Awal Perselingkuhan?

Dari berbagai alasan seseorang melakukan tindakan perselingkuhan, terdapat satu alasan yang sering dipakai orang yaitu Rumput Tetangga Lebih Hijau, dimana orang tersebut melihat bahwa ada orang lain yang lebih baik dari pasangannya secara penampilan, perlakuan dan lainnya. Pembahasan kali ini, lebih dititik-beratkan pada penampilan luar dan dari sisi pasangan yang diselingkuhi dan bukan pada peselingkuh-nya sendiri karena aku melihat kemungkinan memang ada suatu pemikiran atau kebiasaan  yang cenderung secara perlahan namun pasti mendorong pasangan kita untuk melirik rumput tetangga tersebut.

Pernahkah kita memperhatikan berapa kali kita bolak-balik memeriksa dandanan atau penampilan kita sebelum melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk bekerja maupun bertemu teman di mall? berapa lama kita bercermin di toilet untuk sekedar memeriksa penampilan ketika berada disuatu acara? bahkan tidak jarang bagi sebagian wanita langsung mengeluarkan kaca, bedak dan lipstick setiap kali selesai makan. Semua itu dilakukan untuk memastikan penampilan tetap terlihat sempurna dimata semua orang yang akan kita temui dengan berbagai alasan seperti kepentingan untuk meyakinkan klien, negosiasi dengan customer maupun yang lainnya. Pemikiran untuk selalu terlihat sempurna inilah yang membuat hampir semua wanita maupun pria yang kita temui diluar rumah selalu terlihat menarik.  

Dan pertanyaan terpenting berikutnya adalah apakah kita juga melakukan hal yang sama dalam memastikan penampilan kita terlihat sempurna dimata pasangan kita ketika berada dirumah? jawaban sebagian besarnya adalah "Tidak" karena kebanyakan dari kita memiliki pemikiran bahwa "Rumahku adalah Istanaku", aku bisa melakukan dan mengenakan pakaian apa saja sesuai dengan keinginanku. Sebagian dari kita(tidak terkecuali aku sendiri) seringnya memilih untuk merasa nyaman daripada terlihat sempurna ketika berada di rumah sehingga tidak jarang kita mengenakan baju yang mungkin sudah lusuh namun nyaman untuk dikenakan.

Diawal pernikahan, hal seperti ini biasanya belum menimbulkan masalah karena api cinta yang masih membara, namun bayangkan jika selama 5, 10 atau 20 tahun pernikahan dimana pasangan kita atau kita sendiri khususnya yang bekerja dan bertemu pasangan hanya di pagi dan malam hari, kira-kira apa perasaan yang muncul ketika bangun dan pulang rumah dari lelahnya pekerjaan, melihat pasangan yang selalu berpenampilan itu-itu saja, tidak ada yang penampilan yang mampu membuat pikiran kita berteriak "Wow"?.

Keseharian yang seperti ini menimbulkan kejenuhan di pikiran pasangan dan inilah yang menjadi titik awal dimana pasangan mulai melirik ke rumput tetangga apalagi karena umumnya semua orang memiliki pemikiran untuk selalu "tampil sempurna ketika berada diluar rumah", maka pasangan kita akan sangat mudah menemukan orang lain yang terlihat menarik diluar sana. Kombinasi dari penampilan pasangan yang "begitu saja" +  penampilan wanita/pria lain yang menarik menjadi awal dari kemunculan gejolak dalam pikiran dan hati masing-masing. Untuk sebagian orang, hal tersebut bisa dijaga sampai hanya untuk kebutuhan mata dan pikiran saja, namun untuk sebagian yang lain, ketika pikiran dan mata mendapatkan respond dari yang dilihat, maka hatipun bisa mulai tergoda untuk berhubungan lebih dekat dengan orang tersebut dan kita semua dapat menerka cerita kelanjutannya. 

Ada satu kalimat "Dress for Success" yang sering diucapkan khususnya untuk kesuksesan di karir, bahkan ada sebuah survey yang mengatakan bahwa perbedaan dalam nilai gaji yang diterima seseorang bisa dipengaruhi oleh penampilan. Hal diatas menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya selalu menyenangi hal yang indah. Manusia selalu senang melihat semua keindahan alam dan seisisnya, sehingga adalah wajar bagi kita untuk menyenangi orang lain yang terlihat indah dan menarik. Sehingga pertanyaannya adalah pandangan pasangan terhadap diri kita melalui penampilan apakah tidak sepenting pandangan orang lain terhadap kita diluar rumah?

Berpenampilan sempurna ketika berada dirumah bukan berarti harus harus 100% seperti ketika berada diluar rumah karena itu malah bisa menjadi gangguan karena kita terlalu sibuk memperhatikan penampilan sampai kita lupa memberikan kasih sayang pada pasangan. Namun dalam salah satu training etiket yang pernah saya ikuti, dikatakan bahwa menjaga keindahan tubuh dan penampilan yang bersih, rapi, semangat dan sehat dapat membuat orang didekat kita menjadi lebih positif dan bersemangat. Penampilan ini dapat meminimalkan kejenuhan yang muncul ketika berada dirumah dan mengurangi keinginan untuk melirik ke rumput tetangga karena didalam rumah sudah ada yang sempurna.

Tulisan ini merupakan pemikiran yang  hanya berhubungan dengan sisi penampilan dan aku yakin masih banyak sisi lain yang menjadi penyebab dari suatu perselingkuhan. Namun aku tergelitik untuk menuangkan pemikiran ini karena secara pribadi, ketika suatu pagi aku bercermin memastikan penampilanku dan menanyakan pendapat suamiku, tiba-tiba terlintas dipikiran “hey, kenapa harus serepot ini untuk ke kantor saja? Sedangkan dirumah kayanya biasa banget, bahkan seringnya tidak menyisir rambut untuk mengurangi kerontokan rambut, dan aku mulai berpikir “pandangan pasanganku apakah tidak lebih penting daripada pandangan orang lain?”. Mungkin tidak semua sepertiku, tapi buat yang sebagian yang memang masih sering melupakan penampilan dirumah dan setuju dengan pemikiran diatas, maka tidak ada salahnya kita memulai “Dress for Success At Home”.





Tuesday, October 23, 2012

WowTernyata Ombak Pantai & Kehidupan Saling Terkait

Ketika mengenang kegiatan berlibur di pantai,  hal pertama yang dilakukan adalah berdiri di tepi pantai,  menghadap ke laut bebas, menikmati tiupan angin menyentuh tubuh dan wajah sambil menunggu datangnya ombak yang menerpa kaki dan akhirnya pergi meninggalkan kita sambil menarik pasir-pasir dipantai melewati punggung dan sela-sela kaki. Datang dan perginya ombak tersebut secara otomatis akan membuat kaki kita terbenam didalam pasir dan kita akan merasakan sensasi lembut ketika kaki diangkat dari timbunan tersebut, dan ini selalu menjadi kegiatan pembuka dari liburan dipantai bagiku meskipun kalau diingat-ingat kembali, sepertinya tidak ada yang pernah mengajariku melakukan hal ini dan kalau diperhatikan lebih lanjut, kita akan selalu dapat menemui aktivitas ini dilakukan pengunjung pantai  disetiap kunjungan kita ke pantai.
Setenang apapun, pantai akan selalu memiliki ombak ataupun riak kecil karena adanya tiupan angin. Kombinasi dari hembusan angin dan terpaan segarnya air lautlah yang membuat pengalaman berlibur di pantai menjadi istimewa bagi banyak orang. Namun ada kalanya angin bertiup sangat kencang sehingga menciptakan ombak yang sangat tinggi dan liar (Badai) dan jika kita tidak berhati-hati maka bisa terbawa arus.  Penikmat pantai juga bisa terbagi menjadi beberapa kategori yaitu Extreme, Advance, Standard, Beginner. Extreme merupakan orang-orang yang justru datang untuk bermain dengan badai. Advance merupakan orang yang senang bermain dengan ombak besar seperti para peselancar professional dimana semakin besar ombaknya semakin baik untuk pengembangan kemampuan mereka. Standard adalah orang-orang yang senang datang dan berenang dengan santai di pinggir pantai menikmati kesegaran udara dan air laut. Terakhir Beginner adalah para penikmat pasir pantai yang pada umumnya datang untuk duduk ditepian pantai menikmati kelapangan langit dan pantai sambil ngobrol, baca buku dll dengan sesekali menyentuhkan kaki dan tangan di air.
Ketika aku coba merenungkan kembali kegiatan bermain dipantai, WowTernyata memiliki kesamaan dalam kehidupan yang kita jalani. Ombak ibarat tantangan atau masalah yang akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ketika Ombak datang dan pergi menerpa kaki kita sama seperti ketika kita berhasil menyelesaikan tantangan dalam hidup yang akan membawa kepuasan dan kesenangan dalam diri dan kita mendapatkan hal atau ilmu baru untuk masuk ke level yang berikutnya.
Seperti terpaan ombak juga yang kadang membawa karang/batu kecil yang akhirnya melukai kaki kita, sama seperti tantangan yang dapat melukai perasaan, harga diri, egoisme kita, namun pada akhirnya ketika kita melewati tantangan tersebut maka kita akan mendapatkan kebijaksanaan baru seperti bermainlah di pantai yang banyak pasir halus sehingga tidak lecet-lecet kakinya.
Seperti terpaan ombak besar atau badai, sama seperti kehidupan kita yang dihadapkan pada tantangan besar yang bisa mempengaruhi kesejahteraan hidup, keharmonisan keluarga, kesehatan tubuh dan lainnya. Dan ada yang datang tiba-tiba sehingga mau tidak mau kita harus menghadapinya namun ada yang sudah diprediksikan sehingga seperti pengunjung pantai, kita bisa memilih untuk tidak masuk kedalam air tersebut atau bagi para Expert dan Advance yang memnag penikmat ombak besar, maka mereka akan berantusias tinggi sekali bermain dengan ombak tersebut. Namun ketika kita tidak mampu memanfaatkan ombak besar tersebut maka akan hanyut terbawa arus, dan mungkin kehilangan apa yang sudah kita miliki saat ini.
Tapi Seperti hukum alam bahwa Badai Pasti Berlalu, jika kita terus berjuang melewati badai tersebut maka kita akan dapat melihat cahaya yang menembus awan diujung pusaran badai yang menandakan munculnya kesempatan baru untuk kita raih.
Meskipun tidak ada yang pernah mengajari untuk bermain ombak dipantai, naluri setiap individu selalu muncul untuk bermain. Hal ini menunjukkan bahwa kita memang dilahirkan sebagai pencari tantangan karena kita tidak akan pernah puas dengan status Quo sama seperti ketika kita belajar berjalan,  meloncat, masuk sekolah, berpacaran, berpindah-pindah pekerjaan, mencari pasangan hidup, memiliki keturunan dan akhirnya menua dan meninggal. Dengan Naluri pencari tantangan maka sangat wajar jika kita selalu menemukan tantangan untuk kita hadapi dalam hidup karena seperti pantai tanpa ombak akan membuat seseorang tertidur pulas sampai akhirnya kulit terlalu gosong terbakar matahari yang dapat menimbulkan penyakit kanker kulit atau dehidrasi tingkat tinggi dll. Sama Seperti hidup tanpa tantangan apapun akan membuat kita berdiam disatu titik terlalu lama sampai akhirnya ketika kita menoleh kebelakang, tidak ada orang dan ketika melihat kedepan, yang terlihat adalah punggung orang lain.
Ombak datang dan pergi silih berganti dan badaipun pasti berlalu, dan ketika semua itu berakhir maka akan muncul pelangi menghiasi langit yang memberikan senyum diwajah kita. Sama seperti semua tantangan kecil maupun besar yang datang silih berganti pada akhirnya akan selalu memberikan satu hal baru dalam diri kita baik itu pengalaman, kemampuan, materi, lainnya namun yang terpenting adalah kebijaksanaan dalam hidup. Maka itu muncul pribahasa “Banyak Makan Garam” yang berarti banyak pengalaman hidup. Kenapa menggunakan kata “Garam” bukan Gula, karena Tantangan hidup sama seperti Ombak dilaut yang mengandung Garam….

 Dan Jika kita berani bermain dengan ombak ketika kecil, kenapa ketika kita dewasa kita menyerah menghadapi tantangan hidup....?
* Photos are in courtesy of Sawarna Beach Gank. So Much fun there. One of very attractive & clean Beach. Further info about Sawarna will be written on different article :)

Saturday, July 21, 2012

Merelakan Kepergian Dengan KeTulusan


20 Juli 2012, sore hari bersama 3 teman kantor mengunjungi Mall Grand Indonesia untuk mencari kebutuhan acara kantor dan sebelum pulang, tiba-tiba seorang teman yang "hari gini" banget (@pitypiluss) yang fashionable dan hampir seperti google berjalan mengatakan kalimat yang +/- seperti ini "Kadang-kadang kita suka sangat sibuk sendiri sampai kita tidak sadar orang tua kita sudah menjadi tua, dan ketika sadar, (mungkin)mereka sudah tidak ada atau sudah sangat tua untuk bisa menikmati kebersamaan dengan kita". Kalimat ini benar sekali dan sangat menunjukkan pola hubungan orang tua dan anak yang ketika masih kecil, kemana-mana  harus selalu ada orang tua, kalau tidak, rasanya takut dan menangis memohon untuk ditemani. Seiring berjalannya waktu, ketika kita remaja, kita mulai memiliki lingkaran pertemanan yang membuat kita merasa pertemanan tersebut menjadi seperti keluarga sendiri yang membuat kita bersedia membagi cerita kita ke pertemanan tersebut namun tidak ke orang tua kita. Kita mulai membuat batasan (privasi). Ketika mulai lebih dewasa lagi, kita mulai sibuk kerja dari pagi sampai malam suka berpikir bahwa kita sudah mandiri, dewasa sehingga ucapan orang tua kadang bukan hanya tidak di dengar namun juga dibantah. Fase berikutnya, bertemu dengan pasangan hidup, menikah dan membangun keluarga sendiri membuat kita sibuk dengan keluarga kecil kita sendiri dan mulai melupakan orang tua kita. Mungkin diawal pernikahan, kunjungan ke rumah orang tua bisa dilakukan seminggu-dua minggu sekali, namun ketika usia pernikahan semakin bertambah, maka kunjungan pun mulai berkurang sampai akhirnya mungkin beberapa bulan sekali atau bahkan setahun sekali. Dan ketika anak kita sudah bertumbuh menjadi remaja, kita sudah mulai tua dan mulai merasakan jarak antara anak kita dengan kita, maka tiba-tiba terlintas pikiran tentang orang tua kita. Tiba-tiba kita tersadar "Eh, mama papa lagi ngapain?apa kabarnya ya?", dll. Mulai muncul kembali perasaan ingin berhubungan lebih dekat lagi ke orang tua kita. Saat Perasaan ingin menjadi lebih dekat lagi muncul, mungkin saja orang tua kita sudah sangat tua, sudah memiliki penyakit yang mengurangi kenyamanan hidup mereka atau bahkan mungkin sudah meninggal maka kita akan mulai merasa sedih dan menyesali tindakan kita selama ini yang terlalu cuek terhadap mereka dan kita akan menangis tersedu-sedu ketika harus mengantarkan orang tua kita untuk kembali ke sisi-Nya. 

Pola hubungan orang tua dan anak diatas akhirnya membuatku berpikir mengenai "kenapa kita harus menangis ketika orang tua kita meninggal?", karena meskipun kita menangis tersedu-sedu sampai ukuran mata menjadi dua kali lipat dibandingkan ukuran normal, hal itu tidak akan bisa membawa orang tua kita hidup kembali. Meskipun kita merasa sangat menyesal karena tidak memberikan kasih sayang kepada orang tua kita semasa hidupnya, hal itu juga tidak akan membawa orang tua kita kembali karena semua sudah berlalu dan tidak bisa kita putar kembali. So kenapa mesti menangis? kenapa kita tidak mengantarkan kepergiaan orang tua kita dengan senyuman (ketulusan)?. Senyuman (ketulusan) bukan berarti karena kita bebas dari beban ataupun hal lainnya. Tapi senyuman (ketulusan) yang sadar bahwa kita sudah melakukan semua hal baik bersama orang tua kita, tersenyum bahwa orang tua kita telah mengalami hidup yang sangat bahagia dan sekarang saatnya beliau melanjutkan perjalanan mereka berikutnya. Senyuman yang memberikan ketenangan bagi orang tua kita bahwa mereka telah berhasil dalam hidup mereka.

(ps: aku berpikir tapi aku juga belum bisa seperti ini 100%, tapi mari kita berusaha semaksimal mungkin)
Untuk tersenyum (ketulusan) seperti ini maka kita harus mampu memastikan bahwa setiap saat ketika orang tua masih hidup maka saat tersebut merupakan kesempatan bagi kita untuk membahagiakan mereka, untuk membawa senyuman di wajah dan hati mereka, menghilangkan kecemasan dalam pikiran mereka dan membantu mereka untuk selalu bertumbuh pengetahuan, kebijaksanaan dan kehidupan rohani mereka. Seperti dikutip dari nasihat Sang Buddha dibawah ini:

                                                       **********************
"Tidak berlebihan kalau dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha mengumpamakan ayah dan ibu laksana dewa, dewa tingkat tinggi, yaitu Brahma, dengan ungkapan, ”Brahma ti matapitaro”. Dalam sutta ini, Beliau pun menjelaskan bahwa orang tua, ayah dan ibu sebagai Pubba-achariya, guru awal, guru pertama bagi anak-anaknya.
 ṅguttara Nikāya, Sang Buddha menyatakan; ”Saya nyatakan bahwa ada dua orang yang tak pernah bisa dibalas budinya. Siapakah keduanya itu? Ayah dan Ibu.”
Dalam bagian lain dalam Kitab A
”Walaupun seseorang menggendong ibunya di bahu kanan dan ayahnya di bahu kiri, dan saat melakukan ini ia hidup seratus tahun; jika ia melayani mereka dengan mengusapi mereka dengan minyak, memijat, memandikan, dan menguruti kaki dan tangan mereka, seandainya mereka buang air sekalipun, semua itu belumlah cukup yang dilakukannya terhadap orang tuanya, dan ia belum membalas budi mereka. Seandainya seorang anak menempatkan orang tuanya sebagai raja cakkavati yang memiliki tujuh harta, belum cukup juga yang ia lakukan kepada orang tuanya, ia belum membalas budi mereka. Mengapa demikian? Ayah dan ibu sungguh berjasa terhadap anak-anaknya: mereka melahirkan, membesarkannya, memberinya makan, dan menunjukkan dunia kepada anaknya.”

”Namun, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak punya keyakinan, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak bermoral, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kemoralan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang kikir, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kedermawanan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang tersesat dalam kegelapan batin, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kebijaksanaan. Anak seperti ini telah melakukan yang cukup bagi orang tuanya; ia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi terhadap apa yang dilakukan orang tuanya kepadanya.”

Karena itulah, berbahagialah kita sebagai anak yang masih memiliki orang tua, kita masih memiliki kesempatan untuk membalas jasa mereka. Tetapi bagi kita yang sudah tidak lagi memiliki orang tua, tidak perlu bersedih, masih ada bakti yang dapat kita tunjukkan kepada mereka dengan pelimpahan jasa (pattidana).
                                                      **********************

Friday, July 6, 2012

Dibalik kalimat "Kecil-kecil cabe rawit"

Kecil-kecil cabe rawit merupakan "kebijaksaan" lama bangsa kita yang menyatakan bahwa kecil baik secara fisik maupun tindakan dapat memberikan manfaat yang luar biasa.Pagi ini pun, aku merasakan kebenaran dari kebijaksanaan "Kecil-kecil cabe rawit" ini. Ketika berangkat ke kantor, ada seekor nyamuk yang lalu lalang didepan area mobil. Nyamuk tersebut tidak mengigitku, hanya terbang sana sini, namun karena itulah aku merasa ingin menepoknya. Aku melakukan beberapa kali percobaan menepoknya namun gagal terus dan ketika melihat kejalan, waks...mobilku berjalan miring dan hampir mengenai mobil yg ada di lajur kiriku, tinggal sekitar 40cm lagi. Nyamuk dengan badannya yang sangat kecil bisa menjadi cabe rawit yang menyebabkan aku hampir nabrak mobil lain(untung ngga). kejadian pagi ini, membuatku berpikir kembali mengenai kebijaksanaan ini.

Kecil atau besarnya tindakan ataupun tubuh kita sebenarnya tergantung dari bagaimana kita memandang diri kita. Dan cara pandang ini akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita dalam hidup. Seperti sekitar 5 tahun yang lalu dimana seorang loper koran, Agus, berhasil memenangkan 500juta dari kuis "who wants to be a millionaire". Kenapa dia bisa memenangkan kuis tersebut?atau pertanyaannya mungkin harus dimulai dengan "kenapa dia bisa ikut kuis itu?", kenapa dia mau?, kenapa dia bisa?. Menurutku jawabannya terletak pada "bagaimana dia memandang diri dia sendiri", pekerjaan loper koran memang pekerjaan sederhana yang lebih mengutamakan stamina fisik namun pekerjaan itu tidak membuat dia mengecilkan diri sendiri. Karena meskipun dia seorang loper koran, dia memiliki mimpi untuk bekerja di kapal pesiar dan juga keingintahuan yang besar sehingga dia selalu membaca koran untuk mendapatkan informasi dan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mendaftar dikuis tersebut dengan cara mengirimkan sms. Kedua hal (mimpi & keingintahuan) tersebutlah yang membuat dia akhirnya mau, bisa dan menang di kuis tersebut. Namun jika iya memiliki pandangan yang salah seperti "ah, saya hanya seorang loper koran, mau bagaimanapun ya nasibnya ya akan gini aja", maka dia akan hidup dengan perasaan "kecil" yang hanya menerima nasib, berusaha seadanya, dan menyalahkan lingkungannya dan kalau sudah seperti itu, bisa dipastikan dia tidak akan pernah berpikir untuk ikut kuis tersebut & memenangkan 500juta.

Apakah "kebijaksanaan" ini hanya berlaku untu pribadi individu? Bagaimana dengan korporasi atau perusahaan? Apakah kebijaksanaan ini berlaku juga?menurutmu....

Monday, June 11, 2012

"Takut Karena Tidak Tahu, Maka Mulailah Mencari Tahu"


Sudah sekitar dua minggu aku membujuk adik kecilku untuk mengikuti kegiatan sejenis summer camp di area Puncak di bulan juni karena bertepatan dengan hari liburnya. Adikku tergolong anak rajin namun memiliki kepercayaan diri yang rendah sehingga aku melihat kegiatan ini cukup bagus untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Awal pertama kali aku mengajaknya, dia langsung berkata "boleh ajak teman?, boleh ajak si A, si B dll?" namun karena teman-teman yang mau diajak tidak masuk persyaratan umur akhirnya dia memutuskan untuk tidak ikut karena ga ada temennya dan memang acara ini diselenggarakan oleh komunitas remaja Buddhis yang bukan dari lingkungan tempat tinggal adikku. Aku mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia akan mendapat teman baru disitu, kegiatannya menyenangkan, daripada liburan dirumah tidak ngapa-ngapain dll, namun semua hal itu tidak berhasil meskipun aku sudah bolak-balik membujuknya sekitar 4-5 kali, dia tetap tidak ingin pergi.

Hal ini membuatku berpikir lebih serius mengapa dia tetap bersikeras tidak mau pergi padahal sepertinya dia akan suka dengan kegiatan di acara tersebut, aku mencoba mencari cara bagaimana membujuknya supaya mau. Beberapa hari kemudian, aku terpikir tentang awal ketika mau masuk ke perusahaan tempatku bekerja sekarang, dalam hati muncul rasa ragu dan enggan, ada pemikiran apakah aku bisa berteman baik dengan rekan yang baru?nantinya kalau pas makan siang, makan bareng siapa?teman-temannya belagu atau gimana ya?. Pemikiran ini lantas membawaku berpikir ke kondisi adik kecilku, dimana aku yang sudah besar ini saja kalau mau memulai sesuatu yang baru juga akan muncul keraguan baik besar maupun kecil. Ketakutan tersebut muncul karena aku merasa bahwa aku tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di tempat baru tersebut, dan mungkin itu juga yang terjadi pada adikku. Hal ini juga sama seperti ketika kita mengunjungi area yang belum pernah kita datangi, berkenalan dengan calon mertua / seorang petinggi. Kita merasa takut karena kita tidak tahu bagaimana reaksi mereka ketika bertemu dengan kita, namun berbeda ketika kita bertemu dengan orang tua dan pasangan, dimana kita merasa lebih nyaman karena sudah tau bagaimana reaksi mereka. Atau ketika memasuki sebuah rumah tak berpenghuni, kita akan memiliki rasa takut karena tidak tahu apa saja yang mungkin muncul, bisa saja ada sekelompok orang yang sedang bersembunyi & hendak menyergap kita, dll namun jika kita masuk kedalam rumah sendiri, kita akan masuk dengan rasa nyaman karena kita sudah tahu apa yang ada didalam rumah tersebut.

Akhirnya minggu kemarin aku menelepon dia sekali lagi dan bertanya padanya "kamu ga mau pergi karena kamu takut?karena kamu merasa ga kenal dengan siapa-siapa?", jawabnya "Iya". Dan akhirnya aku mencoba membujuk dengan analogi hari pertama sekolah
Aku : "Waktu hari pertama sekolah, kamu merasa takut?"
Adikku : "Iya"
Aku : "Kamu takut karena kamu ga tahu apa yang akan terjadi disekolah?Kalau sekarang?
Adikku : "Iya, tapi sekarang uda ga takut"
Aku : "Iya karena kamu sudah tahu disekolah ngapain, temannya seperti apa, betul?
Adikku : "Iya"
dan akhirnya aku pun mencoba memberikan penjelasan lebih detail mengenai urutan kegiatan yang akan dia lakukan selama kegiatan, memberikan gambaran dimana dia akan tidur, makanan yang seperti apa dan bagaimana tim panitia akan selalu membantunya kalau dia menghadapi kesulitan. Dan semua penjelasan tersebut akhirnya memberikan dia perspektif yang lebih jelas dan akhirnya dia mengatakan "Iya".

Rasa senang muncul bukan cuma karena berhasil membujuknya namun aku menyadari bahwa TAKUT muncul karena TIDAK TAHU dan sering kali karena TAKUT, kita langsung berhenti, menghindari melakukan sesuatu hal atau tidak mengambil satu keputusan sehingga memperlambat kemajuan kita padahal Ketidaktahuan bisa dirubah menjadi TAHU dan ketika kita sudah TAHU, maka rasa takut dan ragu akan menipis dan kita kita dapat membuat persiapan yang tepat untuk menghadapi hal tersebut.

Ketika Takut, Mulailah mencari Tahu


Wednesday, May 9, 2012

Berhentilah Bertingkah Sebagai Messenger

Ly, kamu jangan jadi messenger aja kalau ketemu aku, ini adalah advise dr GM di perusahaan keduaku bekerja. Nasihat ini diberikan pas awal aku masuk ke perusahaan tersebut, dimana pas atasan langsung ku resign & belum ada penggantinya, aku akhirnya harus report lamgsung ke GM. Pada saat itu, awalnya aku cukup shock antara shock di tegur lumayan keras & juga itu advise yg plg berbeda yg pernah aku terima. Namun advise tersebut tidak pernah hilang dari aku dan selalu aku implementasikan sampai sekarang.

Maksud jangan jadi messenger adalah ketika muncul suatu masalah, jangan cuma memberikan report & data saja dan bertanya "gimana neh?", dimana kita melimpahkan pengambilan keputusan ke org lain. Tindakan seperti ini, membuat diri kita menjadi tidak ada added value as employee & person krn kita hanya bertindak sbg messenger yg mungkin kalau report saja bisa mudah didapat dr org lain. Buatlah diri sebagai asset yg valuable dengan memberikan pertimbangan & pemikiran kita terhadap suatu issue yg membutuhkan solusi.

Secara sadar/tidak, kita memang mudah terjebak (atau memilih) dalam tingkah laku seorang messenger karena berbagai kondisi seperti tidak berani(tidak mau) mengambil resiko & kehilangan antusiasme dalam bekerja, merasa diri kurang berpengalaman, merasa opini diri tidak akan didengarkan. Apapun alasannya, ketika kita sebagai pekerja sudah mulai bertingkah sebagai messenger, maka hal itu, akan menyebabkan kemunduran untuk pribadi & untuk organisasi.

kemunduran Pribadi terjadi karena kita tidak pernah mengexplorasi pikiran kita sehingga kemampuan & pengetahuan kita tidak terasah & tidak bertambah. Dan ketika kita berada di status quo, maka kita akan tertinggal dari lingkungan kita yang bergerak maju.
Kemunduran bagi Organisasi terjadi ketika semua bertindak sebagai messenger,maka tidak ada inisiatif & inovasi yg muncul. Semua bergantung pada pimpinan perusahaan sehingga kemungkinan besar dapat terjebak pada ide-ide lama yang mungkin tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini sehingga perusahaan tidak dapat berlari kencang dalam persaingan bisnis.

Untuk memastikan masing-masing individu tidak menjadi messenger dalam pekerjaan mereka adalah dengan membentuk budaya inisiatif & open for idea dan challenge dari semua level organisasi. Dalam pembentukan budaya ini, kunci terpenting adalah semua yang berada di jajaran manajemen, middle dan top managerial seperti apa yang dibicarakan GM tersebut ke aku di perusahaan ku bekerja sebelumnya. Apa yang dia bicarakan sangat melekat di diriku sampai saat ini & selamanya.

Have A Thought and Speak It Out.

Monday, May 7, 2012

Memang Bukan Dia Yang Bermasalah, Tapi AKU Yang Bermasalah

Ketika kita berada di suatu kegiatan yang mengkondisikan untuk berkonsentrasi & tenang seperti belajar di kelas, meeting, menghadiri kegiatan ibadah, dll seringnya kita tidak bisa berkonsentrasi 100% dari awal sampai akhir kegiatan karena banyak gangguan internal maupun external. Internal seperti ngelamun, mikirin hal yang lain, external seperti handphone, orang didekat kita yang ngobrol terus dll. Kemarin pas aku mengikuti kegiatan ibadah yang aku inginnya berkonsentrasi 100%, namun karena jumlah yang datang sangat banyak, akhirnya aku mendapatkan tempat duduk bersampingan dengan sekelompok cewe yang senang sekali mengobrol  dari awal sampai akhir kegiatan dengan suara yang cukup besar seperti kalau mereka lagi hangout ngumpul di mall khususnya wanita yang duduk di depanku yang selalu mengajak temannya yang duduk di sampingku ngobrol dengan suara kencang seakan dunia milik mereka. Rasanya jengkel pun akhirnya muncul ketika dia mulai tidak duduk rapi dibarisan dia dan geser miring kebelakang supaya dia mudah ngobrol dengan temannya dan memberikan ruang yang sangat sempit untukku. Sudah suasana ramai, dia ngobrol terus seperti lagi di mall, duduknya sembarangan, Waah....bener-bener bikin sebal.

Hal diatas sering terjadi dalam keseharian, ketika kita ingin fokus & konsentrasi sering kali muncul godaan/gangguan yang bikin kita kehilangan konsentrasi dan kita biasanya sering mengatakan "iya, berisik banget ni, jadi ga bisa konsentrasi". Kita seringnya menyalahkan kondisi external untuk hal ini, kalau bahasa kerennya "External Locus of Control". Seperti kemarin itu, aku sebal sekali dan selalu mencoba melihat apakah ada tempat duduk yang kosong di area lain, yang akhirnya membuatku tidak bisa beribadah dengan khusuk. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku berpikir, Mungkin masalahnya bukan di orang tersebut, mungkin orang tersebut juga merasa aku mengganggu mereka karena duduk di tempat yang memisahkan dia dengan temannya, mungkin karena badannya aga besar, maka dia tidak bisa duduk tenang seperti aku, Mungkin memang dia ada untuk menguji kemampuan berkonsentrasi ku, mungkin memang aku sendiri tidak bisa 100% berkonsentrasi dengan ada dia ataupun tidak ada dia. Tanpa ada dia, mungkin aku juga bisa nengok sana sini ga memperhatikan. Dan pastinya yang hatinya kesal saat itu adalah aku, jadi aku mengambil kesimpulan bahwa Bukan dia yang Bermasalah, Tapi AKU yang Bermasalah. Kalau memang niatku beribadah dengan khusuk, harusnya dengan ada dia ataupun tanpa dia, aku bisa berkonsentrasi, dan akhirnya aku berkata pada diri, mungkin aku harusnya menjadikan dia "guru" ku, karena dia melatih konsentrasi & kesabaranku. Dan hebatnya, beberapa saat setelah aku mengambil kesimpulan seperti itu, kekesalanku pun perlahan mereda meskipun memang aku belum bisa berkonsentrasi 100%, namun dapat melanjutkan ibadah dengan hati yang lebih tenang & diakhir kegiatan ibadah, aku malah ditawari makanan :D

"Memang Bukan Dia Yang Bermasalah, Tapi AKU Yang Bermasalah", ini merupakan cara berpikir yang menurutku lebih praktis karena kita tidak bisa mengontrol atau merubah orang lain, namun kita akan lebih mudah (PASTINYA) untuk merubah diri sendiri. Daripada kita menghabiskan waktu untuk menyalahkan orang lain, lebih baik kita melakukan tindakan yang bisa membuat diri kita lebih baik ketika berada di kondisi yang tidak menyenangkan (Internal Locus of Control). Dalam kasus diatas, berada pada lingkungan yang banyak orang mengobrol, daripada meminta geng cewe tersebut untuk diam yang aku yakin akhirnya aku akan mendapatkan cibiran, tatapan sinis dan belum tentu mereka diam, lebih baik aku merubah cara berpikirku dan memperbaiki masalah dalam hatiku yaitu menghilangkan kejengkelan dan memusatkan perhatian pada ibadahnya. Hal ini sangat memungkinkan, karena secara tidak sadar, ketika kita sangat berfokus pada sesuatu, lingkungan external akan sangat susah memecahkan konsentrasi kita, contohnya ketika dulu senang nonton film & kalau pas lagi seru, mau dipanggil mama makan berkali-kali pun aku ga dengar sampai mama harus berjalan kearahku dan menepoki pundak, aku baru "oh...ada apa?". Atau ketika lagi asik bbm-an atau online chatting, dipanggil bos pun kita ngga denger, benarkan? dan yang penting jangan lagi asik browsing kerjaan baru, bos lewat ga nyadar, runyam dech urusannya :p. Contoh ringan yang terjadi sehari-hari menunjukkan bahwa sebenarnya Fokus & konsentrasi itu berasal dari Internal diri kita sendiri. Ketika kita begitu tertarik dengan suatu kegiatan, maka Fokus merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan, namun ketika hal itu tidak menarik bagi diri kita, maka sedikit saja gangguan bisa membuyarkan fokus kita.

Lebih mudah kita merubah diri sendiri & membiarkan orang lain mengikuti kita (jika mereka mau karena merasa terinspirasi) daripada kita mengubah orang lain.

Saturday, April 21, 2012

Wow Benarkah Dibalik Pria Hebat Selalu Ada Wanita Yang Hebat?

Seharian menonton film "Spartacus" menceritakan jaman perbudakan di Romawi dimana seorang pria ditangkap & dijadikan Gladiator untuk pertarungan hidup & mati. Pria yang juga dipisahkan dari istrinya karena pembunuhan orang Romawi. Pria tersebut, Spartacus, karena cintanya yang begitu besar terhadap istrinya, kematian tersebut membuat dia dendam membara terhadap kepemimpinan orang Romawi dan akhirnya ia memimpin pembantaian di Ludusnya (sebutan tempat pelatihan gladiator) dan membebaskan budak-budak lainnya. Selain itu, ia juga akhirnya memimpin kawanan gladiator & budak-budak yang dibebaskan tersebut untuk membinasakan pasukan Romawi yang bertugas menghancurkan Spartacus. Difilm ini diceritakan bagaimana semua intrik-intrik, kerjasama & pengkhianatan terjadi karena wanita. Wanita yang mempengaruhi hal yang baik dan juga wanita yang mempengaruhi hanya karena dendam, cemburu & nafsu.

Begitu juga dengan film-film Kerajaan Cina yang menceritakan keruntuhan negara banyak disebabkan oleh wanita. Karena nafsu & keserakahan seorang Raja yang akhirnya dapat dipengaruhi oleh Permaisuri /   Selirnya untuk  mengambil keputusan tidak bijak yang membawa keruntuhan pada kerajaannya. Contoh diatas memang diambil dari film-film yang kutonton. Tapi dalam kehidupan nyata, kalimat "Dibalik pria hebat selalu ada wanita yang hebat, begitu juga dengan keterpurukan pria, selalu ada wanita dibaliknya" juga berlaku. Aku pernah mendengar ucapan Sujiwo Tedjo di Tayangan ILC "Wanitalah yang dapat menghentikan kekerasan / premanisme yang marak terjadi akhir-akhir ini khususnya oleh Geng Motor" (kalimat persisnya lupa, tapi beginilah inti omongannya). Pas mendengar itu, terpikirkan "iya si, bisa aja si ibu marah & mogok "olah raga" malam dengan suaminya yang melakukan premanisme, tapi apa benar bisa sebegitu tangguhnya ancaman tersebut untuk merubah prilaku dari seorang pria"?. 

Setelah dipikir-pikir, wah kenapa tidak?. Ada pria yang berhenti merokok untuk wanita yang dicintainya, ada pria yang rela bangun pagi untuk menemani wanita menyiapkan sarapan untuk wanita yang dicintainya, ada pria yang demi ingin hidup bersama wanita yang dicintainya, berubah dari seorang pemalas menjadi seorang yang rela bekerja mati-matian. Ada juga pria yang rela membunuh orang lain demi mendapatkan wanita yang dicintainya. Ada pria yang tadinya begitu supel dan sering bergaul, bisa berubah menjadi orang yang lebih tertutup setelah jadian dengan wanita. Dan ada banyak lagi.......

Wanita memang bisa membawa perubahan dalam kehidupan pria yang mencintainya. Pada umumnya, wanita  memang banyak menuntut sikap ini itu dari pasangannya dengan pemikiran sikap yang diinginkan oleh wanita tersebut lebih baik daripada sikap yang dimiliki pasangannya sendiri. Demi memenuhi tuntutan wanita, tidak sedikit pria yang akhirnya kehilangan jati diri & idealisme. Tapi apakah itu karena Sang Wanita tersebut? atau itu karena Perasaan yang dimiliki oleh Sang Pria terhadap Sang Wanita tersebut?. Seorang pria akan membuka diri, pikiran & hatinya kepada seorang wanita(Pria) ketika dia memang merasa nyaman dengan seseorang yang dirasa dapat menjadi tempatnya beristirahat ketika dia lelah, penat, marah & bahagia. Pikirku, Bagi Sang pria tersebut, perasaan mengenai kenyamanan yang dia terima dari sang wanitalah yang membuat dia sangat mudah dipengaruhi oleh sang wanita. Ketika dia begitu lelahnya, Sang wanita akan memberikan kenyamanan untuk membuat dia segar kembali. Ketika dia begitu putus asa, sang wanita dengan kemampuan berbahasa yang lebih baik dari pria akan memberikan kata-kata yang membangkitkan semangat.  

Namun, kenapa dia harus mendatangi sang wanita tersebut ketika dia putus asa, lelah dll? kenapa dia tidak datang ke pria lain atau ke wanita lain yang mungkin juga dapat memberikan penyemangat yang sama? Kenapa harus Sang Wanita tersebut padahal ada wanita lain? Pikirku, Semua itu karena Perasaan yang dimiliki sang pria terhadap wanita tersebut. Karena Perasaannya, maka ia menginjinkan Sang Wanita tersebut mempengaruhi diri & hidupnya. Karena Perasaannya, maka ia selalu datang ke Sang Wanita tersebut untuk melepas lelah & bercanda tawa bersama. Jika Sang Pria tersebut menutup perasaan hatinya, maka tidak ada wanita yang dapat mempengaruhinya. Namun apakah semudah itu? Manusia selalu penuh dengan rasa ingin bersama dengan orang lain, dan inilah yang membuat kita mencari pasangan untuk menemani hidup kita sampai tua. 

Adalah baik mendengarkan masukan dari pasangan (sang wanita maupun sang pria), namun dengarkanlah nasihat orang lain dengan penuh kebijaksanaan dan kesadaran pikiran. Karena tidak jarang, masukan yang terdengar baik bisa membawa pengaruh buruk secara langsung maupun tidak langsung baik disadari maupun tidak disadari oleh yang memberikan masukan tersebut. Milikilah pribadi (orang) yang bisa memberikan masukan kepada kita lebih dari satu dan berasal dari berbagai latar belakang sehingga dapat memberikan masukan dengan perspektif berbeda yang dapat membantu pengambilan keputusan kita. Dan yang paling penting ambilah keputusan/lakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan hati nurani kita. Maksudnya ketika kita melakukan sesuatu, maka dalam hati tidak ada rasa "ini ga bener ni, harusnya ga begini". Happy Woman's Day.....

Monday, April 16, 2012

WowTernyata "Not Knowing is Better (Part 1)"

Seringnya kita selalu ingin tahu segala hal baik itu menyenangkan maupun tidak. Contohnya, kalau dijalan tol terjadi kecelakaan, biasanya macetnya bisa paaanjaang banget, meskipun objek kecelakaan sudah dipindahkan kebahu jalan, hal ini karena semua memperlambat laju kendaraan untuk  ingin tahu apa yang terjadi atau hanya sekedar memotret kejadian tersebut tanpa turun & membantu objek kecelakaan tersebut. Contoh lain, karena besarnya rasa ingin tahu masyarakat kitalah yang membuat acara gosip selebriti ataupun tokoh publik sangat di gandrungi khususnya ibu-ibu bahkan karena rasa ingin tahu yang besar digabungkan dengan kesenangan bergosip, maka semakin negatif informasi tersebut, semakin banyak yang ingin mencari tahu & membicarakannya & akhirnya jadi Trending Topic :). 

Tapi apakah selalu mengetahui adalah hal yang baik? Aku rasa TIDAK. Ada beberapa hal yang menurutku Lebih Baik Tidak Tahu karena Semakin Tahu Semakin Tidak Baik. Apa saja hal tersebut? :
1. Gaji antar karyawan & Gosip Negatif
Dulu ketika baru berkenalan dengan suamiku (masih pdkt) dia pernah bilang "Jangan pernah diskusiin gaji dengan teman", karena saat itu aku baru awal bekerja, sebenarnya aku tidak mengerti kenapa tidak boleh?toh emang teman baik, apa masalahnya?. Namun seiring berjalannya waktu setelah 2-3 tahun berkerja, aku mengerti bahwa informasi Gaji Baiknya disimpan sendiri, kalau memang merasa kekecilan atau kebesaran (ada ga ya yang merasa kebesaran) mening langsung ngomong ama atasannya. 
Ketika kita tahu Gaji rekan kerja atau teman kita, maka akan muncul dua akibat yang menurutku tidak baik. Pertama : Kalau Gaji kita lebih besar, kita akan merasa "wah hebat juga aku, bisa lebih besar dari dia", muncul kesombongan dalam diri, dan ketika kita mengetahui gaji teman tersebut, artinya dia juga tahu gaji kita & hal itu mungkin bisa membuat dia menjadi berkecil hati. 
Kedua : Kalau Gaji kita lebih kecil, maka mungkin kita merasa "Ah payah ni, ga fair perusahaannya, kan aku uda kerja gini gitu, hasilnya juga ok, tapi koq ga dihargai" semua perasaan negatif akan muncul dan akhirnya medemotivasi kita, kita jadi tidak berusaha semaksimal kita, kerja seadanya dan akhirnya benar-benar menjadi orang tidak berprestasi. So Not Knowing is Better

2. Berita Kriminalitas & Kekerasan
Papa ku dulu selalu bilang "Kalau uda takdir, mau dirumah pun bisa kena musibah, jadi buat apa mengurung diri dirumah?". Karena selama 17 tahun awal hidupku aku merupakan satu-satunya anak cewe dirumah, mamaku memang cukup mengkhawatirkan keselamatanku. Setiap kali mama menonton berita & ada kriminalitas dia pasti langsung cerita ke aku "wah kamu harus hati-hati kesini, baru kejadian ini loh...bla...bla..." atau dia akan bilang "kamu mening jangan kesitu de, bahaya banget soale baru kejadian gini gitu". Karena Informasi negatif akan lebih mudah mendapatkan perhatian masyarakat, sehingga media juga senang sekali (menurutku) mengembor-gemborkan kekerasan/kriminalitas yang terjadi & seringnya menjadi headline. Buat aku pribadi, berita seperti itu bisa membawa pengaruh negatif kepada pikiran karena membuatku merasa khawatir berlebih, membuat asumsi negatif (mengeneralisir) terhadap suatu daerah atau tipe orang tertentu padahal mungkin hanya oknum tertentu saja. Sama seperti ketika seorang anak kecil setiap hari selalu dibilang "kamu gendut, kamu jorok" maka dia akan tumbuh menjadi anak yang benar-benar gendut & jorok, karena dia percaya bahwa dia jorok & gendut sehingga secara otomatis tubuhnya bertingkah seperti orang gendut & jorok (What You Think is What You Get). So Not Knowing is Better

3. Tingkat kesetiaan pasangan. 
http://fulfilledlifedesign.com
kadang kita suka ingin tahu seberapa besar cinta pasangan terhadap kita, seberapa setia mereka terhadap kita sampai-sampai ada yang mengetes pasangannya sendiri dengan cara meminta teman wanita/pria yang kita kenal untuk menggoda mereka. Beberapa tahun yang lalu ada reality show seperti H2C (Harap-harap cemas) ataupun reality show lain yang mengetes kesetiaan pasangan. Buatku hal ini bukan hal yang baik karena kalau dalam pengetesan diketahui:
a. pasangan ternyata tergoda dengan pria / wanita "suruhan" kita & akhirnya berpaling dari kita, apakah salah pasangan? aku rasa itu salah kita yang menyuruh orang menggoda. sama seperti memasang pengumuman "Dirumah ini tersedia emas 10 Kg" besar-besar & pintu dibiarkan tidak terkunci. Kalau kemalingan, ya bodoh & salah pemiliknya
b. pasangan tidak berpaling ke wanita/pria lain (tidak tergoda), mungkin kita akan senang sesaat namun ketika pasangan mengetahui bahwa kita meminta orang lain menggoda dia, maka mungkin pasangan akan kecewa sekali karena kita meragukan perasaan dia & mempermainkan dia, yang ada nanti malah berakhir pada putus hubungan. Apapun kondisinya, tidak ada hasil yg memuaskan. Lebih baik, membangun hubungan atas dasar percaya & terbuka daripada menjadi detektif untuk pasangan. 

Mungkin kita suka berpikir kita harus tahu segalanya supaya kita tidak kuper, kita bisa bersosialisasi dengan baik sehingga kita harus tahu segala macam. Seringnya karena Tahu, maka ketika kita lagi ngumpul, kita akhirnya menjadi penyebar informasi negatif yang membangkitkan rasa amarah, sebal & kecewa dll yg sebenarnya bukan hal yang baik dan mungkin informasi tersebut juga bukan 100% betul, maka sebaiknya Simpan & buang informasi negatif dan mari kita mulai menyebarkan ketenangan, semangat & kebahagiaan dalam setiap obrolan kita dengan membicarakan prestasi, ide & cerita positif. So Knowing is not 100% Good. Be Mindfulness.

Sunday, April 15, 2012

We Can Start Great, But Can We Finish Great...?

Tgl 14 pagi, aku melihat tayangan gosip di TransTv dan ada section perpisahan Wishnutama dengan team TransTv karena beliau mengundurkan diri dari posisinya sebagai presdir. Acara perpisahan tersebut terlihat sangat mengharukan. Tgl 13 malam pun di OVJ, ada section menyanyikan lagu "Goodbye" ala OVJ untuk si Bos Tama. Dari dua tayangan tsb menunjukkan besarnya hormat & appresiasi anak buah terhadap dirinya. Bagaimana mereka mengagumi beliau sebagai pemimpin mereka.  

Tgl 14 pagipun sebelumnya aku membaca berita didetik.com mengenai pengabadian nama Steve Jobs sebagai nama jalan di Brazil. Pada umunya ketika seorang meninggal dunia, namanya tercantum di batu nisan sebagai bentuk penghormatan, namun seorang Steve Jobs, mendapatkan kehormatan abadi ketika dijadikan nama jalan.  

Kedua tokoh diatas membuatku berpikir bahwa mereka adalah orang yg berhasil selesai dengan luar biasa (Finish Great). Kenapa aku bilang finish great, karena ketika mereka meninggalkan apa yg mereka lakukan sekarang, mereka tidak hanya berprestasi secara individu, tapi mereka juga telah memberi nilai tambah pada sekeliling mereka. Ketika mereka berhenti mereka tidak mendapatkan komentar, tatapan/gosip negatif ataupun ucapan"akhirnya dia resign juga" atau "syukurlah sekarang dia uda ga ada". Mungkin seseorang bisa mendapatkan prestasi luar biasa dalam pekerjaan namun akan menjadi sangat lengkap adalah ketika kita dalam proses mengerjakan sesuatu, tidak hanya fokus pada mengejar apa yang kita inginkan dan sampai mengorbankan / merugikan orang lain tapi dalam proses mengejar mimpi, cita-cita dan prestasi, kita juga bisa memberikan nilai tambah pada orang sekitar kita yang dapat membuat orang sekitar kita menjadi pribadi yang lebih maju secara intelektual, pemikiran & Mentalitas. Dan ketika kita mampu untuk memberikan nilai tambah bagi orang lain & mencapai apa yang kita kejar, maka kita akan dapat mengakhiri ini dengan indah (seperti salah satu lagu Jikustik). Namun hal ini tidaklah mudah, mungkin akan lebih mudah buat kita mengawali sesuatu dengan hebat(start great) namun berakhir dengan tidak baik/biasa saja. Karena untuk Finish Great memang dibutuhkan semangat yg konsisten dan kepedulian terhadap orang lain. 

Semangat bukan sesuatu yg mudah dipertahankan. Contohnya ketika kita baru masuk kerja, 1 tahun pertama biasanya akan sangat bersemangat melakukan pekerjaannya dengan inovasi-inovasi baru, namun memasuki tahun kedua, ketiga dst, semangat seseorang dlm berkarya bisa berkurang jika dia merasa tidak mendapatkan apresiasi yang dianggap setimpal, atau juga karena faktor lingkungan negatif yg membuat orang tersebut terbawa arus negatif, atau mungkin juga terjadi perubahan prioritas hidup, dan masih byk kemungkinan lain yang akan sangat mudah menyurutkan semangat seseorang. Sehingga semangat yg konsisten sangat penting dijaga. Biasanya yang aku lakukan adl melakukan hal-hal baru yg menantang kemampuan diri utk menghilangkan kebosanan, bergaul dilingkungan yg positif&supportif, kemukakan secara langsung keberatan yg dihadapi lebih baik drpd ngedumel/gosip dibelakan, berpura-pura bersemangat ketika tidak bersemangat (Fake it 'till you make it). Berpura-pura semangat adalah salah satu cara yg efektif untuk meningkatkan semangat diri karena phsycological & physical kita saling mempengaruhi. Coba saja pikirkan kejadian paling sedih yg pernah terjadi dengan kepala menghadap keatas, mulut tersenyum, dan tangan terbuka terangkat keatas, apakah bisa merasa sedih?(topik yg menarik, nanti ditulis lbh detail lg) 

Kepedulian terhadap orang lain: Kadang ketika kita sedang mendapatkan kemajuan/keberhasilan sesaat, sering lupa terhadap orang lain atau ketika kita begitu menginginkan sesuatu, yang kita lakukan adalah memanfaatkan semua orang tanpa memberikan nilai tambah bagi orang  membantu kita, malah ketika kita sudah berhasil kita seperti lupa kepada orang-orang yang membantu kita dan malah mulai mulai bersikap sombong. Karena kesombongan, ketidakpedulian & keserakahan inilah yang tidak bisa membuat seseorang Finish Great. We can start great, but can we finish great...?

image source:
http://www.leadership-with-you.com/images/stevejobs.jpg
http://a2.twimg.com/profile_images/1731059397/image.jpg

Saturday, April 7, 2012

Don't Keep Telling Me "It's Wrong", But Tell Me How To Make It Right

"Udah dikasih tau salah, masih aja di ulangi, ga bisa diomongin apa y?". Terdengar familiar?. Kalimat ini sering diucapkan orang tua kepada anaknya ketika dianggap melakukan sesuatu tidak sesuai dengan pemikiran orang tua. Aku pastinya pernah ngomongin ini & diomongin ini khususnya waktu masih kecil. Terus apa masalahnya dengan kalimat ini?ada yang salah? wong orangnya memang salah, masa dibilang benar?, mungkin itu respond orang yang menegur dengan kalimat tersebut jika di komplain.

Apa yang bermasalah dengan kalimat itu? seringnya kita berpikir bahwa orang bisa mengerti dengan mudah maksud dari perkataan kita seperti mereka bisa memahami apa yang dipikirkan kita ketika kita berbicara. Namun pada kenyataannya, TIDAK BANYAK orang bisa dengan mudah mengerti perkataan maupun pemikiran orang lain karena masing-masing memiliki latar belakang berbeda yang membentuk pemahaman mereka terhadap sesuatu.

Khususnya anak kecil, ketika mereka masih dalam proses pembelajaran, artinya mereka masih banyak ga tahu nya tapi mereka ingin tahu, sering kali tanpa pengertian yang tepat dari oragn tua atau orang sekitarnya, akhirnya mereka salah mengerti atau bahkan ora mudeng sama sekali.

Seperti hari ini, ketika mengunjungi rumah mama, bertemu dengan keponakanku dan pas melihat berjalan, kenapa koq seperti kaki dengan tulang X dimana antar paha dikepitkan dan area kaki bawah terbuka. Setelah aku perhatikan, tulang kakinya baik-baik saja. Trus kenapa dia berjalan dengan gaya seperti itu?. Gaya berjalannya, kalau diingat-ingat memang sudah lama seperti itu, dulu aku pernah 2-3X menegurnya, namun baru hari ini aku kepikiran mengajarinya (menunjukkan) cara berjalan yang (aku anggap) normal. Akhirnya aku meminta dia berjalan 2-3 keliling dan aku menunjukkan cara berjalan yang (aku anggap) normal dan santai. Setelah itu, aku memintanya berjalan lagi 4-5 keliling seperti yang aku kasih tau. Dan WowTernyata dia bisa koq berjalan dengan gaya normal. Awalnya memang terlihat sangat kaku  namun perlahan-lahan  mulai santai (meskipun pundaknya masih kaku tegang). Namun kenapa baru sekarang ketika dia sudah di kelas 1 SD? kenapa ga dari dulu? padahal juga dulu sudah dibilangin "Helena, Jalannya koq gitu?Jalannya yang benar dong". Kenapa baru sekarang?

Kejadian diatas mungkin hanya salah satu hal yang menunjukkan bahwa aku juga berpikir dia mengerti apa maksudku. Dan Aku rasa mungkin ada dari kita secara tak sadarsuka mengatakan "itu salah, ayo yang benar". Setelah kejadian diatas, aku menyadari bahwa Tidak Cukup dengan hanya mengatakan "Itu salah" tapi tunjukkan juga cara melakukannya dengan Benar atau apa yang benar, karena mungkin anak yang dikasih tau itu memang belum mengetahui, belum menemukan cara yang benar atau berpikir bahwa cara yang dia lakukan sudah benar. Sehingga sangat dibutuhkan penjelasan yang lebih rinci mengenai apa yang benar karena anak-anak tidak bisa membaca pikiran kita & mereka belum berpengalaman.

Seperti kalimat "Ayo makan yang benar" bisa dilanjutkan "Ayo makan yang benar, nasinya disuapkan ke mulut, tapi jangan berjatuhan. Dan Pas makan, kalau mau ngomong hati-hati supaya ga keselek". Kalimat yang jelas & lengkap menurutku akan lebih mudah dipahami oleh anak kecil. Dengan penjelasan terperinci, mereka tahu & paham apa yang menjadi standard otang tua mereka mengenai makan dengan baik.

Selain dari kata-kata yang diucapkan, aku pikir baiknya juga kita mencoba menganalisa/mencari tahu kenapa anak ini berprilaku seperti ini?karena semua tindakan atau kelakuan anak kecil (orang dewasa pun) pasti ada sumbernya. apakah dia mengikuti orang lain?atau itu adalah bentuk dari ketidaknyamanan dia atau yang lainnya. Seperti keponakan ku Helena, kalau aku coba pikirkan lagi, cara berjalannya itu merupakan salah satu dari bentuk ketidaknyamanan atau ketidakpedean dirinya ketika menghadapi orang lain. Dan dengan berjalan dengan gaya X tersebut dia mencoba membuat dirinya nyaman dan berpikir mungkin orang lain tersebut akan menganggap dia lucu. Sehingga butuh ditanamkan bahwa cara berjalan yang normal adalah cara berjalan yang baik, manis, lucu & cantik (Motivasi kata-kata berbeda tergantung pada anak-anaknya. kalau cowo mungkin menggunakan kata "Keren, Gagah"). Sehingga dia paham bahwa kenapa dia harus berjalan dengan benar.

So Stop Telling Me It's Wrong, But Tell Me How To Make It Right. And Remember To Tell Me, Why I Should Make It Right.

Monday, April 2, 2012

"Janganlah Mengejar Uang Tapi Buatlah Uang Mengejar kita"

Istilah "Janganlah Mengejar Uang, Tapi Buatlah Uang Mengejar Kita" baru dimengerti olehku hari minggu, 1 April 2012. Dimana aku sempat mengikuti sharing singkat dari salah satu motivator : Bong Chandra. yang mejelaskan mengenai karakteristik Uang.


Ketika setiap kali mendengar namanya, aku selalu mempunyai bayangan dikepalaku bahwa dia seorang yang yang gendut/chubby, namun pas liat dia kemaren ternyata masih muda, ganteng & tinggi standard cowo. Baru berumur 24 tahun tapi sudah mampu membangun kawasan perumahan. Ganteng, pintar & sukses. Terpesona jadinya & lebih terpesona lagi ketika mendengar bahwa dia memulai bisnisnya di umur 19 tahun dengan membuka EO (Event Organizer) baru akhirnya dia masuk ke properti. Two Thumbs Up.

Mendengar dia bercerita mengenai Kesuksesan dalam hal financial khususnya, kita harus mengenal karakteristik uang (benar juga, soalnya kalau ga kenal maka tak sayang). ini dia ketiga karakter tersebut :
1. Uang Tidak Pernah Hilang, Uang Hanya Berpindah Tuan.
Menurut beliau : Uang mendatangi/menghampiri orang yang dianggap memiliki kapasitas untuk menjadi tuannya. jika "dia" merasa bahwa seseorang layak memilikinya, maka dia akan mendampinginya. sehingga baiknya kita terus mengembangkan kapasitas diri. 
Setelah dipikir dan dipikir lagi, aku mengambil kesimpulan bahwa :
a. Kapasitas diri disini artinya sangat luas. kapasitas berarti pengetahuan, kemampuan, sikap, tindakan & kebijaksanaan. 
b. Kapasitas yang membuat kita mampu melihat & mengambil kesempatan didepan mata ataupun di ujung gang. terpikir contoh sederhananya : Suatu hari ketika masih kuliah, aku melamar menajdi SPG di perusahaan interior . dalam proses interview, setelah beberapa pertanyaan, akhirnya dia bertanya "Kamu bisa bahasa mandarin?", jawabku "untuk daily conversation, bisa sedikit". Berbekal kemampuan bahasaku, aku diberikan kompensasi yang lebih besar dibanding SPG lain karena ada sebagian customer dia yang merupakan keturunan Tiong Hoa yang dia yakin kalau aku bisa ngobrol dengan mereka, maka kemungkinan saler/repeat sales akan lebih besar. 
Jika saat itu aku tidak memiliki kemampuan tersebut(kapasitas) mungkin kompensasi yang aku dapat, sama dengan rekan lainnya atau mungkin dia akan mencari SPG yang lain (berpindah Tuan)  yang bisa berbasa mandarin.

2. Uang Tidak Suka Kerumunan
Bong Chandra, menceritakan bahwa ada sebelah (satu tanpa pasangan) sepatau yang dilelang di e-bay dengan harga lelang terakhir Rp. 154jt. taukah kalian sepatu siapa itu?itu adalah sepatu reporter Iran yang melempari President Amerika, George W. Bush. ini adalah contoh hal minoritas yang disenangi oleh uang. pesan beliau adalah "Jadilah minoritas". ketika mau berbisnis, liat dulu sekililing kita, bisnis apa yang paling ramai yang sudah ada? dan Kita JANGAN bikin bisnis yang sudah ramai tersebut. 
disini aku berpikir mengenai Teori Marketing "Diferensiasi". dari semua perusahaan sepatu dengan gaya yg membuat si penggunanya terlihat elegan, eksklusif dll, munculnya Croc, dengan model sepatu clog yang secara pribadi aku tidak terlalu senang melihat model aneh tersebut, tp masyarakat berpikir sebaliknya. mereka melihat ini sebagai sesuatu yg unik & berbondong-bondong mereka rela ngantri panjang 2-3 lantai mall untuk membeli sepatu ini & akhirnya menjadi trendsetter

3. Uang Suka Berselingkuh
untuk point terakhir ini, aku menyimpulkannya seperti Ketika seseorang sudah memiliki kesuksesan secara financial, ada istilah "Roda selalu berputar". tidak sedikit & mungkin hampir semua orang yang sukses secara financial saat ini pernah mengalami kebangkrutan atas masa-masa sulit. kenapa bisa sudah sukses secara finansial masih bisa bangkrut? disinilah terlihat karakter uang suka berselingkuh. ini adalah saat dimana si uang mengetes Tuannya, apakah tuannya benar-benar layak menjadi tuannya dengan cara pergi meninggalkan dia. Jika si Tuan memiliki endurance/daya tahan/ semangat yang besar untuk bangkit dalam hidupnya, maka si Uang akan kembali padanya dengan jumlah yang berlipat. Namun jika Tuannya malah patah semangat, menyalahkan orang lain menjadi negatif, maka si Uang akan melihat Tuan tersebut Tidak Layak di dampingi. 

So, dari sharing singkat beliau membawa ku ke kesimpulan diatas yang akhiirnya aku mengerti tentang istilah "Jangan Mengejar Uang, Tapi Buatlah Uang Mengejar Kita". Teruslah dan jangan berhenti untuk belajar karena seperti pepatah Cina "Hou Dao Lao, Xie Dao Lao" : "Hidup Sampai Tua, Belajarlah Sampai Tua".